Meneguh Daulat

Ini percakapan klasik, dan barangkali juga sudah mulai kita lupakan. Bung Karno itu benci sistem yang melahirkan stelsel masyarakat menjadi dua sisi, ringkasnya si melarat dan si ongkang-ongkang kaki.

Ideologi itu, sepertinya semua paham bersepakat, kecuali golongan yang senang pada sistem itu. Sistem yang semacam itu dinamai kapitalisme masa sekarang, dan riba sebelum itu.

Bacaan Lainnya

Pangkal tua sinonim dari istilah ini lebih mengerihkan lagi. Itulah kolonialisme. Suasana alam masyarakat kita yang dikuasai feodalisme, telah memungkinkan ekspansi geografis atas kapitalisme mendapatkan lapangan pemerasan bertingkat yang dinamai kolonialisme atau penjajahan.

Wabah Penjajahan itu telah menjadikan separuh dunia dalam kegelapan. Dunia dibagi dalam bentuk wilayah jajahan, baik itu dalam rangka berdagang separuh nyolong, maupun perbudakan, berwajah kerjasama.

Baca Juga :  Pendidikan Gotong Royong

Penyakit yang tertinggal adalah kehilangan keberanian dan kepercayaan diri. Akhirnya, kita seperti “tikus yang lapar di lumbung padi”.

Nusantara Dalam Dunia

Dari dulu, jalur perairan nusantara kita jadi pusat perkelahian global. Konflik penguasaan berbuntut pembagian wilayah koloni melalui perjanjian Saragosa. Perjanjian Saragosa berisi garis demarkasi sekitar 297,5 leagues (952 mil laut) dari Maluku.

Lewat Perjanjian Saragosa, Portugis berkuasa atas semua benua dan laut di barat garis itu, termasuk Asia dan kepulauan-kepulauan yang ditemukannya.

Sementara Spanyol hanya mendapat Samudra Pasifik. Dengan demikian, Portugis tak mempermasalahkan Spanyol menguasai Filipina.

Akibat Perjanjian Saragosa Spanyol dengan terpaksa harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kegiatannya di Filipina. Sedangkan Portugis tetap melakukan aktivitas perdagangan di Maluku. Dengan ini Spanyol akhirnya angkat kaki dan Portugis kembali memonopoli perdagangan di Maluku.

Hingga masa VOC tiba, kita tidak pernah mendapat bagian apapun yang layak dibanggakan, melainkan menjadi sumber pemerasan sekaligus pemasok kekayaan global. Saat fajar revolusi 1945 berkumandang, sebagian dari kita malah mempertentangkan kekuasaan bukan hari depan. Seperti gelapnya masa lalu, masa depan sukar terbayangkan.

Baca Juga :  Politik Sepeda dan Konsolidasi Kebaikan Umum

Mentaliteit Warisan

Dekade-dekade penting berlalu dalam keheningan. Yang masak dendeng rusa dan nasi aking masih tetap eksis. Kita tidak pernah sekalipun merasakan bentuk perjanjian yang adil, hingga isyu kiamat mulai dihembuskan.

Rasa tidak percaya diri itu sekarang tercermin lewat penguasaan pabrikasi gang ekonomi Asia Timur yang menjadikan pulau-pulau kita sebagai objek defragmentasi pabrik. Pulau-pulau dijejeri lalu lintas perdagangan yang menempatkan kita hanya sebagai pelayan upahan.

Pelayan upahan melalui sejumlah rente sebagai ongkos pemeliharaan infrastruktur.

Ini tentu tidak adil. Barangkali bisa disebut menyedihkan. Tetapi kita tidak memiliki instrumen yang sepadan untuk berani menentukan harga yang harus dibayar. Ancaman persaingan lokasi investasi telah membutakan mata kita atas keunggulan sumber daya alam.

Baca Juga :  Moderasi Beragama : Akal Bulus Liberalisasi Agama

Meneguh Daulat

Mengapa kita takut memberi ancaman, bahwa tidak ada pasokan mineral, jika setengah keuntungan pabrikasi tidak dibagi dengan negara. Bukankah itu lebih mencerminkan bangsa yang merdeka ketimbang memajaki usaha rakyat jelata yang hidup dari margin seperak.

Tidak akan ada perang yang akan membinasakan sumber bahan baku. Persaingan atas akses lah yang menjadi pemicu perang. Dunia sudah sedemikian rupa, tidak mungkin kedaulatan bisa dirobek dengan mudah hanya karena mempertahankan apa yang menjadi kepunyaan kita.

Eropa dan Asia Timur bisa saja berjaya karena tekhniknnya. Tetapi yang harus dipegang teguh, tanpa pasar dan pasokan komoditas dari kita, mustahil mereka bisa menarik laba super.

Penulis : Andika

Pos terkait