Program HAR Fatayat NU dan YAPPIKA-ActionAid Dilaksanakan dengan Penerapan Prokes Ketat

Suasana Pelatihan Hydroponic yang dilaksanakan yang dilaksanakan Fatayat NU dan YAPPIKA-ActionAid, di Desa Lende Tovea beberapa waktu lalu. (FOTO : dok Fatayat NU)

SULTENG, CS – Program Humanitarian And Resilience (HAR) yang dilaksanakan oleh Fatayat NU bersama YAPPIKA-ActionAid diharapkan membawa perubahan yang signifikan bagi komunitas yang menjadi sasaran program, yakni remaja perempuan di Desa Lende Tovea, dan Desa Beka.

Melalui proses yang terkadang akan dipertemukan dengan berbagai tantangan, baik Faktor internal maupun faktor eksternal. Salah satu Faktor eksternal yang hingga bulan ketiga masih ada, yaitu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro Level 4 di Sulawesi Tengah (Sulteng) akibat Pandemi Covid-19.

“Secara 100 persen, mulai tanggal 12 Agustus sampai dengan tanggal 23 Agustus, yang kemudian diperpanjang sampai tanggal 6 September dan sekarang diperpanjang lagi mulai tanggal 07 sampai 20 September, secara langsung berdampak pada Jadwal Kegiatan yang sudah ditetapkan demi menjaga keselamatan semua pihak, baik internal Tim Fatayat NU maupun Komunitas sebagai penerima manfaat program,” ucap Camat Sindue Tobata, Ustad H. Ardian Madiua, di Donggala, Senin 4 Oktober 2021.

Kata Ustad Ardian, demikian pula halnya dengan pemberlakukan sistem Zonasi sebagaimana data yang diperoleh dari Satgas Covid-19 Sulteng, bahwa Kabupaten Donggala masuk dalam kategori Zona Orange, akan tetapi Desa Lende Tovea masih masuk dalam kategori Zona Hijau dan untuk Kabupaten Sigi masuk Kategori Zona Merah. Sementara Desa Beka diawal penetapan Zonasi masih masuk pada kategori Zona Orange, namun selang satu bulan kemudian, Desa Beka masuk kategori Zona Merah seiring dengan semakin bertambahnya jumlah warga yang terpapar Covid-19.

Baca Juga :  Gubernur Minta Kader IMM Sulteng Banyak Belajar Sejarah

Dia mengatakan, komitmen Fatayat NU untuk tetap menjalankan Program Kemanusiaan menumbuhkan energi positif  berupa keyakinan, bahwa dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Motivasi tersebutlah yang akhirnya walaupun masih di tengah pemberlakuan PPKM Level 4, Tim Fatayat NU tetap melaksanakan Kegiatan di Desa Lende Tovea sebagai salah satu desa sasaran program, yang masuk pada kategori zona hijau.

“Selasa 29 Agustus 2021 melaksanakan Training Of Trainer (TOT) Kepemimpinan Perempuan dengan Materi  Keprotokoleran, Management Organisasi dan Kepemimpinan Perempuan yang hari itu juga sore harinya dilanjutkan dengan mempersiapkan semua yang dibutuhkan. Untuk kegiatan hari itu tiba-tiba dapat informasi kalau Neneknya meninggal, namun  untuk melanjutkan semua tugas CO dibantu Focal Point (ERR). Alhamdulillah Kegiatan TOT dan Pembentukan Kelompok Posiromu Rando’o, di hadiri oleh 15 orang peserta dari Dusun 1 dan Dusun 2, sementara dari Dusun 3 – Labuana tidak bisa hadir dikarenakan kondisi cuaca hujan,” terangnya.

Solusi karena ketidak hadiran peserta dari Dusun Labuana, Materi TOT dikirim melalui WhatsAp ke Labuana dan dalam kepengurusan posiromu rando’o remaja perempuan dari Labuana tetap dimasukan.

Baca Juga :  Ternyata! Arti Sandi 'DORM' di Rekening Staf DPRD Buol Yang Viral Gegara Saldo Rp14 Triliun Lebih

Selanjutnya, tanggal 31 Agustus 2021 kembali ke Desa Lende Tovea melaksanakan Kegiatan Pelatihan Keterampilan Kewirausahaan Hydroponic (Sayuran, Cabe dan Tomat), dan Kerajinan Tangan membuat Konektor Masker dan Bros, Pelatihan Kewirausahaan di pandu Fasilitator sesuai Bidangnya.

Hydroponic dipandu Ibu Hj. Alfiah, beliau seorang Ibu Rumah Tangga yang sudah kurang lebih 2 tahun mengelola atau bercocok tanam dengan sistem Hydroponic dan sudah berhasil beberapa kali  panen. Pengalaman beliau tersebutlah yang kemudian beliau ajarkan kepada Peserta kelompok Ekonomi Remaja Perempuan. Sementara Bidang Kerajinan Tangan dipandu Ibu Hj. Riya, beliau juga Ibu Rumah Tangga yang memiliki Usaha mandiri Toko Assesoris. disamping itu beliau juga sebagai fasilitator kerajinan tangan yang sudah memiliki pengalaman mengajar dibeberapa tempat, maka Fatayat NU memandang penting mengundang Ibu Hj. Riya mengajarkan pembuatan konektor Masker dan Bros kepada Kelompok Ekonomi Remaja Perempuan.

Lanjut Ustad Ardian, kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor Desa Lende Tovea, yangmana sebenarnya akan diadakan di dua tempat. Hydroponic di Dusun Labuana dan kerajinan Tangan di Kantor Desa Lende Tovea.

Namun masih karena alasan cuaca, maka Tim Fatayat NU tidak diizinkan untuk ke Dusun Labuana, karena jalan masuk ke Labuana mendaki dan berlubang serta licin, sehingga agak sulit bagi orang yang tidak menguasai kondisi jalan untuk bisa kesana. Akhirnya disepakati bahwa, Remaja Perempuan dari Dusun Labuana di jemput CO dengan menggunakan  mobil Pic Up untuk bisa hadir mengikuti kegiatan di Kantor Desa Lende Tovea.

Baca Juga :  Januari 2022, Jasa Raharja Sulteng Serahkan Santunan Rp 2 Miliar

Mengingat masih dalam masa Pemberlakuan PPKM Mikro Level 4, walaupun Desa Lende Tovea masuk kategori Zona Hijau, dalam Pelaksanaan Kegiatan baik Protection dan Livelihood tetap menerapkan Protokol Kesehatan secara ketat selama kegiatan berlangsung.

Penerapaan PPKM Level 4 di Sulawesi Tengah termasuk semua Kabupaten/Kota,  terutama Desa Beka yang ditetapkan sebagai Zona merah, maka untuk sementara selama di bulan Juli dan Agustus Fatayat NU menunda kegiatan tatap muka dan mengalihkan menjadi koordinasi melalui Telephone dan WhatsApp, demi keselamatan Komunitas dan juga Tim Fatayat NU, koordinasi juga selalu dilakukan dengan Satgas COVID-19 untuk mendapatkan Update perkembangan kasus COVID-19 di Sulawesi Tengah terkhusus di Desa Beka yang merupakan Wilayah Kerja Fatayat NU juga dan akan segera melaksanakan kegiatan  tatap muka apabila sudah ada perubahan status Desa Beka dari Zona Merah menjadi  Zona Hijau. **

Pos terkait