Warga Galumpang Butuh Logistik Bahan Pokok dan Trauma Healing

TOLITOLI,CS – Masih ingat banjir bandang yang menerjang Desa Galumpang Kecamatan Dako Pamean Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Rabu 23 Maret 2022 silam?.

Ya, bencana besar yang menghanyutkan 10 unit rumah warga. Memutus jembatan jalan poros utama trans Sulawesi serta merendam ratusan hektar perkebunan dan sawah warga. Termasuk menghancurkan jaringan pipanisasi air bersih desa setempat.

Bencana yang juga membuat ratusan warga desa harus kehilangan pekerjaan karena lahan pertaniannya rusak. Kini warga masih harus bertahan hidup seadanya.

Mereka belum bisa bekerja karena masih berjibaku untuk membersihkan puing-puing material dan sisa lumpur di rumah masing-masing. Menata kembali persawahan dan kebun yang terendam lumpur tanpa bantuan pihak manapun.

Baca Juga :  Habis Dibakar, Dihadapan Forkopimda PLN Tambu Akui Pelayanan Listrik ULP Belum Maksimal

Tiga pekan berlalu, ternyata warga kini mulai kesulitan menjalani hidup. Terlebih ini bulan suci ramadhan. Distribusi bahan pokok dari sejumlah organisasi masyarakat dan sosial berangsur hilang. Seolah dampak banjir juga telah hilang.

Ada sedikitnya 721 kepala keluarga yang bermukim di desa ibu kota kecamatan Dako Pamean ini yang semuanya penyintas bencana banjir.

Kepala Desa Galumpang Fajrin Asnawi kepada media ini mengaku, warga kini sangat membutuhkan uluran tangan utamanya pemerintah setempat untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok.

“Warga masih sibuk. Jalan kantong produksi pertanian masih dalam pembenahan dengan sistem kerja bakti,”ungkap Asnawi kepada Channelsulawesi.id.

Baca Juga :  Pemkab Sigi Pacu Program Rehab Rekon Pasca Bencana

Dari balik handphone, Asnawi menyebut, sejak terdampak banjir, aliran bantuan sepertinya hanya terfokus pada urusan perbaikan fisik saja.

Sementara, hujan di desa tersebut setiap hari masih terjadi. Fajrin mengaku kawatir, jika intensitas hujan terus meningkat bisa kembali memicu terjadinya banjir susulan.

Iapun menyebut, sejauh ini belum ada satupun pihak yang memberikan progam trauma healing bagi penyintas di desanya. Padahal anak -anak penyintas ini sangat butuh sentuhan trauma healing utamanya dari yayasan terkait kepedulian anak.

“Sepertinya trauma healing belum ada satupun yang lakukan dari lembaga yang peduli terhadap anak anak korban bencana banjir sampai saat ini,”bebernya.

Baca Juga :  Polres Morowali Patroli Dialogis dan Imbau Jaga Keamanan Lingkungan

Karena itu Fajrin mengaku akan secepatnya berkoordinasi dengan instansi terkait mengenai kondisi penyintas di Desa Galumpang.

“Saya akan koordinasi dengan instansi terkait,”ucap Fajrin melalui sambungan telefon.

Untuk diketahui jumlah anak yang butuh sentuhan trauma healing sebanyak 308 orang. Membangun kembali semangat anak-anak pasca bencana adalah sebuah keharusan. (Armen Djaru)

Pos terkait