Ini Pemicu Pembakaran Kantor PLN di Donggala

DONGGALA, CS – Demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Sojol yang berujung ricuh ternyata dipicu oleh pemadaman listrik yang dilakukan oleh PLN dinilai tidak merata.

Salah seorang Tokoh Pemuda Kecamatan Sojol, Jusman menuturkan, PLN Sabang memasok listrik ke tiga Kecamatan Yaitu Kecamatan Sabang, Dampelas dan Sojol.

“Dari tiga Kecamatan ini, Kecamatan Sojol menjadi kecamatan yang paling sering mengalami pemadaman listrik. Apalagi pada saat bulan puasa kemarin, kecamatan Sojol nyaris tidak dialiri listrik,” jelasnya.

Tidak hanya itu, kata dia, sebelum aksi tanggal 27 Mei 2022 itu dilakukan, masyarakat sudah berkali-kali melakukan aksi masa mempertanyakan penyebab PLN selalu melakukan pemadaman listrik di Kecamatan Sojol.

Namun, pihak PLN tidak pernah mau turun langsung untuk memberikan penjelasan terkait hal tersebut kepada masyarakat. Hal ini yang menjadi salah satu penyulut emosi masyarakat.

“Kami itu sudah melakukan aksi berkali-kali di Kantor Camat, sempat dijanjikan bahwa listrik akan normal kembali seminggu sebelum lebaran. Tetapi sampai saat ini juga tidak terbukti, bahkan kami mempertanyakan kenapa hanya Kecamatan Sojol saja yang paling sering dilakukan pemadaman listrik. Bahkan waktu bulan puasa hampir sebulan penuh listrik kami padam,”jelasnya.

Baca Juga :  KKP Akan Umumkan Anggaran Untuk Perbaikan Infrastruktur Sektor Perikanan

Lanjutnya, sehari sebelum demo besar itu terjadi, tepatnya pada tanggal 26 Mei 2022 masyarakat juga melakukan aksi masa ke kantor camat, dengan jumlah masa sebanyak 200 orang. Namun, masyarakat tetap tidak merasa puas dengan jawaban dari pemerintah setempat.

“Tanggal 26 Mei itu masyarakat menyuarakan tiga tuntutan. Pertama meminta untuk dipertemukan dengan perwakilan PLN. Kedua, meminta pemadaman listrik diberhentikan atau dilakukan secara adil tidak pilih kasi. Ketiga, meminta agar mesin PLTD dipindahkan di Balukang atau kantor PLN Siboang,”tuturnya.

Kata dia, karena dialog tidak menemui titik terang akhirnya masyarakat kembali saling mengajak untuk melakukan aksi masa. Puncaknya, pada tanggal 27 Mei 2022 masyrakat Kecamatan Sojol kompak melakukan aksi masa mendatangi Kantor Camat Sojol pukul 08.00 Wita.

Baca Juga :  Empat Pencuri Uang Ratusan Juta di Gorontalo Diringkus di Tolitoli

“Kedatangan masyarakat diterima oleh Kapolsek Sojol, Danramil, Camat, Tokoh Masyarakat dan sejumlah Kades. Kemudian masi aksi diminta untuk mengutus perwakilannya untuk berdialog ke dalam Aula Kantor Camat Sojol,”jelasnya.

Kata dia, pada saat aksi di kantor Camat Sojol itu, masa demonstrasi tersebut sekitar 1.500 orang. Karena dialog dinilai terlalu lama, masa merasa. Bosan menunggu, serta tidak ada jaminan untuk menghasilkan solusi, akhirnya sebagian masyarakat diluar ruangan saling ajak untuk melanjutkan demonstrasi di Kantor PLN Sabang dan Tambu.

“Dialog masih terus berlanjut, pada pukul 11.00 sebagian masyarakat sudah menuju ke kantor PLN Sabang dan Tambu. Untuk melaksanakan solat Jumat, masa aksi singgah di salah satu mesjid di Desa Pangalasiang untuk melaksanakan ibadah, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Sabang dan Tambu,”terangnya.

Mulanya, kata dia, jumlah kendaraan roda empat yang digunakan itu sebanyak 20 kendaraan yang berasal dari Desa Bou sebanyak 9 Mobil, Balukang 4 Mobil, Balukang II sebanyak 2 Mobil, Siwalempu 3 Mobil, Siboang 1 Mobil dan Pangalasiang 2 Mobil. Untuk kendaraan roda dua juga sangat banyak, karena sebagian besar masyarakat menggunakan kendaraan roda dua.

Baca Juga :  Penetapan Tersangka Pengadaan Kapal Diskanlut Tolitoli dinilai Cacat Prosedur

“Namun, dalam perjalanan menuju ke Kantor PLN Sabang dan Tambu, iring-iringan kendaraan para demonstran semakin bertambah, ada beberapa mobil dan motor dari Kecamatan tetangga yang juga ikut bergabung, mungkin dengan alasan solidaritas,”jelasnya.

Dia menjelaskan, pada saat sampai di kantor PLN Sabang, tidak ada satupun perwakilan PLN yang menemui masa aksi, sehingga dengan kondisi tensi masyarakat yang sangat panas dan masa demonstran yang lelah setelah perjalanan langsung bertindak anarkis merusak dan membakar mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel di Desa Sabang.

“Merasa tidak puas, masyarakat melanjutkan perjalan ke kantor PLN Tambu dan juga melakukan pengrusakan kantor, karena sampai di lokasi, tidak ada satupun karyawan PLN yang ada di kantor,” terangnya.

Setelah merasa emosi sudah terlampiaskan, akhirnya masa demonstrasi membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. (ADK)

Pos terkait