Bjorka, Kiamat Sudah Dekat

Ketua DPD PKS Donggala Abdul Rasyid

Dunia maya tetiba heboh dengan munculnya sosok misterius beridentitas Bjorka. Entah siapa, dimana dan berjenis kelamin apa sudah tidak menjadi penting. Karena memang kehidupan di dunia maya “identitas” tidaklah menjadi perhatian melainkan apa yang “di posting”  itulah yang akan diributkan.

Bjorka seolah menjadi pahlawan bagi golongan yang merasa saat ini berada pada seberang jalan kekuasaan. Sedangkan bagi kekuasaan Bjorka adalah penjahat yang perlu segera ditertibkan. Fenomena ini sebenarnya bukanlah hal baru, sudah banyak akun-akun di medsos selama ini melakukan hal yang kurang lebih mirip seperti akun “Opposite6890” dan lain sebagainya.

Namun demikian Bjprka lebih menggigit dan berani masuk dalam data fundamental milik para petinggi negeri bahkan hingga buzer-buzer yang selama ini ditengerai berada satu barisan dalam kekuasaan. Sontak hal ini membuat seisi dunia maya dan dunia nyata riuh seketika. Membongkar data personal seolah membuka “aib” seseorang secara telanjang.

Baca Juga :  Transformasi Koperasi dan Urgensi Lembaga Baru

Hal inilah yang perlu dicermati bersama bahwa fenomena Bjorka bisa menjadi penanda bahwa jurang “pemisah” telah begitu lebar di antara sesama anak negeri. Seharusnya jika jurang pemisah ini tidak ada atau setidaknya tidak terlalu lebar maka Bjorka seharusnya menjadi pelecut bersama untuk segera memperbaiki sistem keamanan data, bukan malah sebaliknya.

Disnilah titik kritis itu, dunia maya benar-benar telah mengacak-acak kemapanan dunia nyata. Identitas personal yang seharusnya wajib dilindungi negara ternyata begitu mudahnya jebol dan terumbar sana-sini. Semua hancur lebur ditangan hacker yang mungkin awalnya hanyalah keisengan dan kesenangan semata. Tapi inilah fakta sosok Bjorka hanya akan terus memunculkan Bjorka -Bjorka lainya seperti dalam film fiksi ilmiah yang akan mengguncang semesta jika masanya tiba.

Baca Juga :  Tri Putra Toana Tokoh Pers Peduli Olahraga

Bjorka semakin membuka mata bahwa jangan pernah merasa aman karena dikelilingi kecanggihan dunia digital. Orang seketika tersadar bahwa dunia digital hanyalah dunia sempit yang tingkat keamanannya sangatlah rentan. Data pribadi yang dianggap tersimpan rapi ternyata hanya dengan sekali “klik” bisa menjadi milik siapa saja.

Bjorka semakin mempertegas bahwa dunia nyata yang ada saat ini ternyata sudah tidak lagi benar-benar “nyata”, semua hanya reproduksi berulang-ulang dari dunia maya. Dahulu orang bisa memisahkan mana mana dunia nyata dan mana dunia gaib (maya/ilusi/fantasi/dsb). Tapi saat ini hal tersebut sudah lebur menjadi satu bahkan sulit lagi untuk dipisahkan. Ukuran kebenaran menjadi kabur karena yang dulunya fakta tersusun rapi kini dapat direkayasa seolah-olah menjadi benar adanya. Terlalu banyak kasus dunia digital yang terus menggambarkan hal itu.

Baca Juga :  Berada di Zona Gempa, Haruskah Kota Palu Berhenti Membangun ?

Bjorka ternyata membuka mata batin juga, bahwa suatu saat dunia ini memang benar-benar akan kiamat, dan dalam versi kiamat ini dimulai dengan hilangnya sifat dasar kemanusiaan yang rindu akan persatuan dan kasih sayang akibat ilusi dunia maya yang menggila. Semua akan saling curiga yang akhirnya berebut saling menghancurkan dan membinasakan.

Terus bagaimana selanjutnya? Dan bagaimana semestinya? Jika masih percaya pada panduan agama, maka sebaiknya tunda prasangka dan cek-ricek setiap postingan di dunia maya.

Simpel kan?! tapi sulit.Walahu a’lam bisshawab

 

Pos terkait