Jurnalis di Palu Ikut Lokakarya Jurnalisme Kebencanaan. Ini Kesepakatannya

PALU,CS – Puluhan Jurnalis dari berbagai paltform media massa di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) mengikuti kegiatan lokakarya yang digelar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),Jumat 26 Mei 2023 di Hotel Santika Palu.

Lokakarya bertema “Pendekatan Sinergi dalam Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sulteng” ini dibuka Ketua Harian Satgas pelaksana penanggulangan bencana pasca gempa, tsunami dan likuefaksi, Dedi Permadi yang mewakili Ketua Satgas, Arie Setiadi Moerwanto.

Selain Jurnalis, lokakarya juga dihadiri sejumlah personil bidang Hubungan Masyarakat dari sejumlah instansi.

Dalam sambutannya, Dedy Permadi mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian PUPR dalam membangun hubungan sinergi dengan para jurnalis yang tergabung dalam media lokal dan nasional serta para pengiat media sosial.

“Kami berharap, melalui kegiatan ini dapat terbangun hubungan sinergis dan kesepahaman dalam melaksanakan fungsi keterbukaan informasi publik untuk mengawal informasi dan pemberitaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sulteng,”kata Dedi Permadi membacakan sambutan Ketua Satgas.

Baca Juga :  DPS-HP Kota Palu ditetapkan 271.604 Jiwa

PUPR menurutnya terus berupaya memberikan informasi dan berita kepada masyarakat dengan menyediakan situs informasi dan berita yang dapat diakses di sitaba-sulteng, media sosial CSRRP,. Atau situs-situs resmi yang dikelola Kementerian PUPR, layanan pers-conference, serta release berita yang dimuat di media lokal dan nasional.

Lokakarya Jurnalisme kebencanaan menurutnya juga adalah upaya mendekatkan kepada konsep dan implementasi jurnalisme kebencanaan yang mengutamakan kepentingan informasi dengan prinsip jurnalisme yang akurat, humanis, komitmen menuju rehabilitasi, kontrol dan advokasi.

Dalam lokakarya ini Kementerian PUPR menghadirkan Koordinator Bidang Pendidikan, Persatuan Wartawan Indonesia, Ahmed Kurnia dengan materi Jurnalisme Kebencanaan. Dengan sub materi pendekatan sinergi dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sulteng.

Ahmed Kurnia menekankan point-poin penting yang kemudian menjadi kunci dalam pembahasan pada lokakarya ini.
Menurut Ahmed, Jurnalisme kebencanaan merupakan genre baru. Sebagai wilayah yang rawan bencana, Indonesia, terutama wilayah Sulteng akan menjadi Kiblat bagi Jurnalisme Kebencanaan.

Baca Juga :  Ini Komitmen Hadianto Rasyid Untuk Besarkan Asprov Sulteng

“Kita telah berpengalaman menangani berbagai bencana alam, karena itu sangat tepat jika Kementerian PUPR mengadakan Lokakarya ini”, tandasnya.

Menurut Ahmad, media harus mencerahkan dan mengedukasi. Para jurnalis harus memperhatikan sumber berita yang legitimate dan akurat.

“Dalam Jurnalisme Kebencanaan, wartawan harus memiliki keberpihakan kepada kemanusiaan”, jelasnya.

Pemateri lainnya yang hadir dalam diskusi panel lokakarya adalah Sekretaris PWI Sulteng, Udin Salim l, sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Metro Sulawesi yang membawakan materi tentang peran serta media dalam mendukung penyebaran informasi kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Pascabencana Sulteng.

Kemudian Temu Sutrisno juga dari PWI Sulteng dengan materi tugas dan fungsi Jurnalis. Diskusi panel dimoderatori oleh Muslich Basri dan Malindo Adhi S sebagai co Moderator dari PMC CSRRP

Udin Salim menekankan pentingnya pemulihan psikologis, tidak melukai perasaan korban, kontinuitas berita dan autentik.

Baca Juga :  Bahas 165 Pasal, Pansus Ranperda RTRW Minta Perpanjangan Waktu

“Media tidak boleh mencampuradukkan fakta dan opini serta tidak menghakimi,” ungkapnya.

Lalu Temu Sutrisno, yang menekankan bahwa jurnalisme kebencanaan lebih menitikberatkan pentingnya informasi kemanusiaan yang imparsial dan memenuhi hak-hak penyintas. Lebih dari itu kata dia, Pers harus menjadi media sambung rasa.

Lokakarya menyepakati 4 poin kesimpulan.

Pertama, media memiliki peran strategis sebagai duta masyarakat dan mitra pemerintah dalam memastikan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi agar berjalan lancar dan sesuai dengan rencana.

Kedua, membangun relasi dan komunikasi antara instansi pemerintah dan pemangku kepentingan dengan pers untuk menginformasikan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Sulteng.

Ketiga, mendokumentasikan proses, cerita, narasi, dan best practice dari penanganan bencana sejak tanggap darurat hingga fase rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana di Sulteng dan keempat, keberlanjutan, yaitu membentuk forum diskusi ramah tamah, lomba jurnalisme, lokakarya, dan lain sebagainya dalam rangka membangun kemitraan media dan pemerintah.(**/TIM).

Pos terkait