Dinkes Donggala Catat Kasus Stunting Tertinggi Terjadi di Kecamatan Pinembani

dr Syahriar M Kes

DONGGALA,CS – Kecamatan Pinembani di Kabupaten Donggala tercatat sebagai daerah penyumbang angka stunting paling tinggi dari kecamatan lainnya. Kecamatan Pinembani ini menyumbang sekitar 40persen angka stunting di Donggala.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Donggala, dr Syahriar dalam keterangan persnya, Rabu 19 Maret 2024.

“Saya sudah tiga kali bermalam di Pinembani. Angka stunting di sana paling tinggi di Kabupaten Doanggala. Cuma disana  lebih banyak factor familiyar genetic. Coba perhatikan orang disana pendek-pendek,”ungkap Syahriar.

Terkait konidisi demikian, intervensi yang dilakukan spesifik untuk daerah terpencil. Mengingat secara geeografis Pinembani cukup jauh dari kawasan perkotaan. Dinkes sudah melakukan upaya pelayanan kesehatan daerah perbatasan dan kepulauan. Lalu menempatkan pos perbatasan dan sangat terpencil.

Baca Juga :  Komisi II DPRD Donggala Bakal Gelar RDP Bersama Bidang Aset

“Hampir seluruh wilayah kami yang terpencil sudah ada pos pelayan kesehatan. Biasanya juga back up dengan dinas kesehatan. Sayangnya tahun ini tidak menjadi lokus. Pada tahun 2022 Donggala menjadi lokus untuk pelayanan kesehatan kepulauan dan daerah terpencil. Itu sumber anggaran dari Kementerian Kesehatan (kemenkes),”jelasnya.

Karena itu tahun ini anggaran terbatas untuk itu. Makanya kata Syahriar, program Dinkes dirangaikan dengan kunjungan untuk monitoroing evaluasi (monev) untuk beberapa program di Psukesmas untuk efisinesi anggaran.  Karena pelayanan kesehatan di daerah terpencil itu butuh coas yang tinggi.

Baca Juga :  PAW Dua Kader PKB di DPRD Donggala akan Dilantik Pekan Depan

“Factor yang paling dominan penyebab stunting adalah asupan gizi yang kurang karena sumber jauh dari laut. Saat ini dilakukan intervensi secara sensitive melalui peternakan perikanan  untuk budidaya ikan air tawar,”sebutnya.

Kemudian intervensi lainnya adalah memprioritaskan 1 telur 1 hari. Pola ini dilakukan dengan memberikan pakan ayam peteranakan pada masyarakat. Hanya saja menurutnya hal ini sering di luar dari Tugas dan Fungsi (Tusi) Dinkes.

“Jadi meski dibebankan tugas sebagai coordinator untuk intervensi secara spesifik dan sensitive, Yang seharusnya Dinkes hanya membahwahi spesifik karena dalam Pepres itu Dinkes hanya 30 persen APBN. Sensitif itu dilaksanakan oleh PUPR, Dinas Perikanan, pertanian. Namun memang Dinkes tetap harus ikut dalam program sensitive itu,”paparnya.

Baca Juga :  Warga Balaesang Titip Puluhan Aspirasi ke Syafrudin Mahyudin

Demikian halnya terhadap 8 pilar penanganan stunting. Dinkes menurutnya hanya dibebankan 1 pilar.

“Sayangnya ketika ada stunting, yang disoroti itu dinkes padahal leading sektornya itu Dinas P2KB. Keberhasilan harusnya keberhasilan bersama, begitu juga jika gagal. Jalan tidak bisa sendiri – sendiri. Ini sangat disanyangkan,”pungkasnya (TIM)

Pos terkait