MOROWALI, CS – Praktisi hukum Morowali, Abdul Malik, SH MH, menyoroti sikap Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Morowali yang dinilai belum menunjukkan respons terkait kasus kematian bayi dari ibu Ramdhana yang terjadi 22 November 2025 lalu. Kasus tersebut diduga berkaitan dengan kelalaian tenaga medis.
Hingga hari ke-13 pasca kejadian, sejumlah pihak seperti Bupati Morowali, DPRD Morowali, dan Polres Morowali telah mengambil langkah menindaklanjuti kasus tersebut. Namun, menurut Abdul Malik, organisasi profesi kedokteran justru belum memberi sikap ataupun pernyataan belasungkawa.
“IDI adalah organisasi profesi yang menaungi dokter, termasuk memberikan sanksi jika terjadi pelanggaran. Di bawahnya ada MKEK yang memiliki kewenangan menyidangkan pelanggaran etik dokter. Tapi sampai hari ini, saya belum mendengar apa pun langkah yang dilakukan IDI Morowali,” tegas Abdul Malik, Sabtu (6/12/2025).
Ia mempertanyakan apakah IDI menunggu laporan keluarga korban sebelum mengambil tindakan.
.Menurutnya, kondisi psikologis ibu Ramdhana yang masih lemah seharusnya menjadi alasan IDI melakukan langkah proaktif dengan melakukan pemeriksaan internal.
“Harusnya IDI berinisiatif turun langsung melakukan pemeriksaan, bukan diam. Ini momentum bagi IDI untuk berbenah di tengah banyaknya masukan masyarakat agar dapat melahirkan dokter yang profesional,” ujarnya.
Abdul Malik juga menilai IDI lebih sering bersuara ketika ada tenaga medis ditetapkan sebagai tersangka, namun cenderung tidak muncul ketika masyarakat menjadi korban dugaan malapraktik.
“Kalau begini terus, jangan salahkan masyarakat kalau berpikir IDI hanya menjadi wadah untuk melindungi oknum dokter yang salah,” tambahnya.
Ia kemudian mengajak masyarakat, pemerintah, mahasiswa, dan kelompok aktivis untuk terus menyuarakan keadilan bagi ibu Ramdhana agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
“Pertanyaannya, IDI butuh berapa mayat bayi lagi di Morowali supaya mau responsif dan turun tangan mengevaluasi dokter? Kasus serupa bahkan terjadi di Jayapura, di mana ibu Irene Sokoy dan bayinya meninggal setelah ditolak empat rumah sakit,” ujar Abdul Malik.
Dari pantauan media, sekretariat IDI Morowali berada di RSUD Morowali Bungku, yang menjadi rumah sakit rujukan ibu Ramdhana setelah sebelumnya disebut dipaksa melahirkan normal di puskesmas. Kondisi ini, menurut Abdul Malik, semakin menguatkan dugaan adanya kecenderungan saling melindungi dalam lingkup profesi.
Reporter: Murad


