JAKARTA, CS – Harga emas dunia melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu kepanikan pasar global dan mendorong investor beralih ke aset safe-haven.
Data pasar menunjukkan harga emas sempat menembus level lebih dari 5.400 dolar AS per ons pada pekan ini. Kenaikan tajam tersebut terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu aksi besar-besaran investor meninggalkan aset berisiko.
Lonjakan harga emas mulai terlihat sejak 28 Februari 2026 setelah serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap target militer serta fasilitas nuklir Iran.
Serangan tersebut memicu eskalasi konflik yang disebut sebagai salah satu ketegangan paling serius di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
Pada 2 Maret, harga emas berjangka tercatat melonjak sekitar 4 persen hingga diperdagangkan di atas 5.400 dolar AS per ons, menurut laporan Yahoo Finance. Sehari kemudian, harga emas spot bahkan sempat menyentuh level tertinggi intraday di kisaran 5.417 dolar AS per ons.
Meski demikian, pada Kamis (5/3) harga emas mengalami koreksi setelah sebagian pelaku pasar melakukan aksi ambil untung. Harga emas tercatat turun ke sekitar 5.135 dolar AS per ons, atau terkoreksi sekitar 280 dolar dari rekor tertinggi yang dicapai sebelumnya.
Analis dari JPMorgan Chase memperkirakan konflik tersebut memicu tambahan premi risiko geopolitik terhadap harga emas sekitar 5 hingga 10 persen. Namun mereka juga mengingatkan bahwa lonjakan akibat ketegangan geopolitik sering kali sulit bertahan dalam jangka panjang.
Meski demikian, JPMorgan memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai sekitar 6.300 dolar AS per ons pada akhir 2026 jika kondisi pasar tetap mendukung.
Sementara itu, World Gold Council memperkirakan harga emas rata-rata dapat berada di kisaran 5.800 dolar AS per ons dalam skenario dasar tahun ini, dengan peluang kenaikan lebih tinggi jika konflik berlangsung lebih lama.
Konflik di Timur Tengah juga berdampak pada pasar energi global. Iran dilaporkan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara.
Teheran juga memerintahkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Langkah tersebut menyebabkan harga minyak mentah global melonjak lebih dari 14 persen dalam sepekan.
Selain itu, Qatar dilaporkan menghentikan sementara produksi gas alam cair setelah fasilitas energinya menjadi sasaran serangan.
Para analis menilai lonjakan harga emas juga didukung faktor lain yang sudah terjadi sebelumnya. Sejak awal tahun, harga logam mulia ini telah naik sekitar 19 persen akibat meningkatnya pembelian bank sentral, kekhawatiran inflasi global, serta pelemahan dolar AS.
“Peningkatan premi risiko geopolitik dalam jangka pendek sejalan dengan pandangan optimistis kami terhadap emas, tetapi bukan satu-satunya faktor yang mendukung prospek logam mulia ini,” ujar analis JPMorgan, Patrick Jones, dalam catatan risetnya.
Menurut para analis, harga emas ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, serta permintaan dari bank sentral dunia. *

