JAKARTA, CS – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak serangan gabungan pada 28 Februari 2026 mulai menimbulkan dampak ekonomi bagi Indonesia.

Dampak tersebut terlihat dari lonjakan harga tiket pesawat rute Timur Tengah hingga terganggunya logistik ekspor furnitur.

Penutupan sejumlah wilayah udara di kawasan Timur Tengah memaksa maskapai melakukan pembatalan serta pengalihan rute penerbangan. Kondisi ini memicu kenaikan harga tiket pesawat, terutama bagi jemaah umrah Indonesia yang hendak kembali ke Tanah Air.

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menyoroti kenaikan drastis harga tiket bagi puluhan ribu jemaah umrah yang berpotensi tertahan di Arab Saudi.

Sekretaris Jenderal Hipmi, Anggawira, menyebut harga tiket satu arah rute Jeddah–Jakarta kelas ekonomi milik Garuda Indonesia yang biasanya berada di kisaran Rp7–8 juta kini melonjak hingga Rp18–20 juta per tiket.

Selain itu, maskapai Saudia Airlines dilaporkan membatalkan sejumlah penerbangan menyusul penutupan wilayah udara di kawasan konflik.

Laporan CNBC Indonesia juga menyebutkan maskapai Cathay Pacific bahkan kehabisan kursi kelas ekonomi untuk rute Hong Kong–London hingga 11 Maret akibat lonjakan permintaan dan perubahan jalur penerbangan.

Hipmi pun meminta pemerintah segera berkoordinasi dengan maskapai nasional untuk menambah jadwal penerbangan serta menetapkan batas harga tiket dalam kondisi darurat.

Selain sektor transportasi udara, konflik tersebut juga berdampak pada sektor ekspor furnitur Indonesia.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengungkapkan pengiriman logistik ke kawasan Timur Tengah mengalami hambatan akibat ketegangan geopolitik.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menyebut biaya logistik pengiriman ke kawasan tersebut bahkan meningkat hingga dua kali lipat.

Kondisi ini membuat pelaku industri furnitur mulai mencari pasar alternatif seperti India dan negara-negara di kawasan ASEAN.

Meski demikian, Sobur menyatakan optimistis karena sebagian besar ekspor furnitur Indonesia masih ditujukan ke Amerika Serikat.

“Target market kita bukan di Middle East. Sebanyak 58 persen ekspor furnitur Indonesia ke Amerika Serikat. Di sana relatif tidak ada perang,” ujarnya saat pembukaan pameran IFEX 2026 di ICE BSD, Rabu (5/3).

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso memperingatkan dampak yang lebih besar dapat terjadi apabila Selat Hormuz ditutup, karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Menurutnya, penutupan jalur strategis tersebut berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar global yang dapat menekan daya saing ekspor Indonesia.

Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan dua kapal milik Pertamina saat ini terjebak di kawasan Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan.

Pemerintah pun mempertimbangkan pengalihan impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional menjelang Lebaran.

Selain itu, pemerintah berencana memperkuat pasar domestik serta menyiapkan berbagai stimulus ekonomi guna meredam dampak ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. *