JAKARTA, CS – Sejumlah tokoh ulama mendesak Presiden Prabowo Subianto agar menarik Indonesia dari keanggotaan Board of Peace (BoP), forum internasional bentukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Desakan tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Presiden dengan 158 tokoh dari 86 organisasi masyarakat Islam di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3/2026) malam.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tetap mempertahankan keanggotaannya di forum Board of Peace.

Ia menilai keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut merupakan langkah diplomasi strategis untuk memperjuangkan isu perdamaian, termasuk kemerdekaan Palestina.

Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nusron Wahid, mengatakan Presiden mempertanyakan alternatif jalur diplomasi jika Indonesia memutuskan keluar dari forum tersebut.

“Bapak Presiden mempertanyakan, jika kita keluar, forum mana lagi yang tersedia untuk meja perundingan perdamaian?” kata Nusron usai pertemuan.

Menurutnya, Presiden memilih strategi diplomasi dari dalam forum atau struggle from within untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia, termasuk mendorong solusi dua negara bagi Palestina dan Israel.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis menyampaikan bahwa Presiden juga berjanji Indonesia akan mengevaluasi keikutsertaan dalam forum tersebut. Jika Board of Peace dinilai tidak mampu memperjuangkan kemerdekaan Palestina, Indonesia siap menarik diri.

Pertemuan dengan para ulama tersebut merupakan rangkaian dialog yang digelar Presiden untuk membahas posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Sebelumnya, pada Selasa (3/3/2026) malam, Presiden Prabowo juga mengundang sejumlah mantan presiden dan tokoh politik ke Istana Kepresidenan Jakarta. Pertemuan yang berlangsung hampir empat jam itu dihadiri mantan Presiden Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono, serta mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ma’ruf Amin, dan Boediono. Sementara itu, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri tidak hadir karena sedang berada di Bali.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan pertemuan tersebut bertujuan untuk bertukar pandangan terkait perkembangan situasi internasional, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda yang turut hadir menyebut Presiden memaparkan situasi geopolitik pasca serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, serta potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi.

“Bapak Presiden menggambarkan bagaimana kita harus menavigasi biduk kita, bukan di antara dua karang, namun beberapa karang, dan itu tidak mudah,” ujar Hassan.

Rangkaian pertemuan tersebut juga berkaitan dengan kunjungan Presiden Prabowo ke Washington, Amerika Serikat, pada Februari lalu. Dalam kunjungan tersebut, Prabowo bertemu dengan Presiden AS Donald Trump dan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026.

Kesepakatan tersebut menurunkan tarif sejumlah produk Indonesia yang masuk ke pasar Amerika Serikat dari 32 persen menjadi 19 persen. Selain itu, sebanyak 1.819 pos tarif mendapat fasilitas tarif hingga nol persen, termasuk untuk komoditas sawit, kopi, kakao, dan semikonduktor.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Prabowo juga menghadiri pertemuan perdana Board of Peace di Washington.

“Kami telah bernegosiasi dengan sangat intens selama beberapa bulan terakhir dan saya rasa kita telah mencapai kesepakatan yang solid dalam banyak isu,” ujar Prabowo saat berada di Washington. **