JAKARTA, CS – Puluhan ribu jemaah umrah asal Indonesia masih berada di Arab Saudi di tengah gangguan penerbangan akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Hingga 8 Maret 2026, sebanyak 19.509 jemaah telah dipulangkan ke Tanah Air sejak proses pemulangan dimulai pada 28 Februari lalu, dari total sekitar 58.873 jemaah yang tercatat berada di Arab Saudi pada awal krisis.

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memuncak pada akhir Februari 2026 menyebabkan penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah. Dampak dari situasi tersebut membuat maskapai Saudia Airlines membatalkan sejumlah penerbangan internasional.

Di Indonesia, gangguan penerbangan juga berdampak pada operasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, di mana sedikitnya 15 penerbangan rute Timur Tengah dilaporkan dibatalkan pada awal Maret.

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan pemerintah tengah bernegosiasi dengan otoritas Arab Saudi dan maskapai penerbangan guna memberikan keringanan fasilitas bagi jemaah yang tertahan.

Ia menyebutkan sekitar 7.500 jemaah telah dijadwalkan pulang dalam waktu dekat. Selain itu, pemerintah juga berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk menyiapkan pesawat khusus apabila eskalasi konflik di kawasan tersebut terus meningkat.

Sementara itu, per 9 Maret 2026, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah melaporkan masih terdapat 341 jemaah dari berbagai penyelenggara umrah yang menunggu kepastian jadwal kepulangan di Jeddah dan Makkah.

Sebagian jemaah dari beberapa penyelenggara perjalanan diketahui mengalami penjadwalan ulang penerbangan dan dijadwalkan pulang secara bertahap pada 10 hingga 15 Maret 2026.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, menyoroti pentingnya pengawasan terhadap jemaah umrah mandiri yang kerap menggunakan rute transit negara ketiga sehingga proses pelacakan kepulangan menjadi lebih kompleks.

“Koordinasi dengan Kementerian Haji tidak boleh sebatas administratif. Harus ada langkah nyata mulai dari pendataan ulang, penguatan komunikasi dengan KBRI dan KJRI, hingga pemantauan terhadap Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah maupun jemaah mandiri,” ujarnya.

Kementerian Haji dan Umrah melalui Kantor Urusan Haji di Jeddah juga telah membentuk tiga tim yang bekerja dalam tiga shift dan ditempatkan di tiga titik bandara untuk mengantisipasi keterlambatan atau penundaan penerbangan.

Juru Bicara Kementerian Haji, Ichsan Marsha, menegaskan kondisi di wilayah Arab Saudi saat ini tetap aman dan terkendali. Aktivitas masyarakat disebut masih berjalan normal meskipun terdapat peningkatan kewaspadaan.

Pemerintah mengimbau masyarakat yang berencana melaksanakan ibadah umrah dalam waktu dekat untuk mempertimbangkan penundaan keberangkatan hingga situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali kondusif. *