PALU, CS – Sebanyak 129.637 keluarga di Sulawesi Tengah (Sulteng) tercatat sebagai keluarga berisiko stunting berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) Tahun 2025.
Dari jumlah tersebut, sekitar 39 persen berasal dari kelompok keluarga miskin yang berada pada kategori ekonomi desil 1, 2, dan 3.
Data tersebut mengungkapkan bahwa di Sulawesi Tengah terdapat 820.596 keluarga dengan 430.745 pasangan usia subur (PUS) atau sekitar 52,49 persen dari total keluarga.
Wakil Gubernur Sulteng, Reny A. Lamadjido menyampaikan bahwa prevalensi stunting di daerah tersebut yang masih berada di angka 24 persen menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Hal itu disampaikan Reny saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tahun 2026, yang digelar di Hotel Grand The Sya Palu, Kamis (12/3/2026).
Dalam kesempatan itu, Reny mendorong keterlibatan aktif seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dalam percepatan penurunan stunting melalui program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting).
“Kita akan sepakati masing-masing kepala OPD ada satu gentingnya supaya bisa melakukan intervensi,” ujarnya.
Selain itu, Reny juga menekankan pentingnya peran Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dalam memastikan program MBG 3B dapat menjangkau masyarakat yang menjadi sasaran program.
Ia meminta para penyuluh aktif melakukan kunjungan kepada masyarakat yang tidak hadir dalam kegiatan pelayanan kesehatan.
“Saya minta jika ada sasaran yang tidak datang mohon dikunjungi. Kadang masyarakat tidak datang karena merasa bosan dengan menu yang diberikan, padahal komposisi gizinya sudah diatur. Ada juga yang tidak mau membawa anaknya ke posyandu,” katanya.
Reny juga menyoroti masih tingginya angka putus pakai kontrasepsi yang mencapai 25,10 persen, sehingga tingkat penggunaan kontrasepsi modern di Sulawesi Tengah baru mencapai 58 persen.
Ia pun mengajak para suami untuk turut berperan dalam program keluarga berencana, termasuk melalui metode kontrasepsi pria.
“Kita harapkan bapak-bapak mau vasektomi, jangan ibu terus dipaksa,” tambahnya.
Reny mengaku kerap memantau langsung kondisi pelayanan kesehatan di lapangan, termasuk kegiatan posyandu, guna memastikan program penanganan stunting berjalan efektif.
“Saya itu gila urusan. Kalau turun ke daerah, selalu singgah di dua atau tiga posyandu untuk melihat langsung bagaimana pelayanan dan kondisi anak-anak di sana,” pungkasnya. *

