AMERIKA SERIKAT, CS – Lonjakan flu burung kembali terjadi secara global, dengan Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah sejak awal 2026.

Merebaknya wabah ini beriringan dengan musim migrasi burung yang kembali berlangsung pada musim semi. Pergerakan burung liar antar-benua dinilai menjadi faktor utama penyebaran virus, yang kini menjangkiti kawasan Amerika Utara, Asia, hingga Eropa.

Data federal mencatat, lebih dari 14,3 juta unggas di 84 peternakan di Amerika Serikat telah terinfeksi sepanjang tahun ini. Situasi ini memperpanjang krisis yang telah berlangsung sejak 2022.

Pejabat dari Animal and Plant Health Inspection Service, Alan Huddleston, menyebut pola wabah saat ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Ia menegaskan bahwa penyebaran virus terus berulang setiap musim migrasi.

Sejak pertama kali muncul, wabah ini telah berdampak pada sekitar 200 juta unggas di lebih dari 2.100 peternakan di seluruh Amerika Serikat. Angka tersebut menjadikannya sebagai wabah flu burung terbesar dalam sejarah negara itu.

Di tingkat global, lonjakan kasus juga terjadi di sejumlah negara. Korea Selatan melaporkan kasus ke-60 musim ini setelah virus terdeteksi di peternakan bebek di wilayah Jangsu. Otoritas setempat langsung memusnahkan sekitar 12.000 unggas serta menerapkan pembatasan aktivitas sementara.

Sementara di Eropa, Belanda kembali mencatat infeksi baru di peternakan ayam petelur di Provinsi Drenthe. Sekitar 24.000 ayam dimusnahkan, dengan total 38.000 unggas terdampak di dua wilayah berbeda.

Menurut European Centre for Disease Prevention and Control, terdapat 2.514 kasus flu burung yang sangat patogen di 32 negara Eropa dalam periode akhir November 2025 hingga Februari 2026. Mayoritas penularan terjadi akibat kontak langsung dengan burung liar.

Para ahli menilai situasi saat ini berbeda dibanding wabah sebelumnya. Virus flu burung kini terindikasi beredar sepanjang tahun di populasi burung liar, bukan hanya musiman.

“Ada paparan virus yang terus-menerus, sesuatu yang tidak kami lihat pada wabah sebelumnya,” kata Huddleston.

Meluasnya wabah flu burung menjadi tantangan serius bagi sektor peternakan global. Dengan penyebaran yang semakin sulit dikendalikan, negara-negara didorong untuk memperkuat sistem biosekuriti guna mencegah kerugian ekonomi yang lebih besar. *