IRAN, CS – Presiden Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Namun, ancaman tersebut tidak direspons, justru memicu kekhawatiran pasar global dan mendorong lonjakan harga minyak.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz tanpa batas waktu. Langkah ini merupakan respons atas tekanan dari Amerika Serikat yang mendesak pembukaan jalur vital tersebut.

Selat Hormuz dikenal sebagai jalur strategis yang dilalui sebagian besar distribusi energi dunia. Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada stabilitas harga minyak global.

Lembaga keuangan Goldman Sachs mencatat tren kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir. Bank tersebut bahkan telah beberapa kali merevisi naik proyeksi harga akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dalam analisis terbarunya, Goldman Sachs memperingatkan harga minyak berpotensi bertahan tinggi hingga 2027. Bahkan, tidak menutup kemungkinan harga kembali menyentuh level ekstrem seperti pada masa krisis energi 2008, yakni mendekati 150 dolar AS per barel jika gangguan terus berlanjut.

Pada perdagangan Minggu, harga minyak kembali melonjak. Minyak mentah Brent acuan global dibuka di kisaran 114 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat tercatat menembus angka 100 dolar AS per barel.

Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dunia, mengingat Selat Hormuz menjadi titik sempit distribusi minyak paling krusial.

Situasi yang belum menunjukkan tanda mereda membuat pelaku pasar bersiap menghadapi volatilitas berkepanjangan. Jika ketegangan terus meningkat dan jalur distribusi energi tetap terganggu, harga minyak berpotensi terus merangkak naik dalam waktu dekat. *