TEHERAN, CS – Pemerintah Iran membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut adanya negosiasi produktif antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama sebulan.

Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan Amerika Serikat “bernegosiasi dengan diri sendiri” dan menolak upaya diplomasi yang disampaikan oleh Trump.

“Jangan berpura-pura kekalahan Anda adalah sebuah kesepakatan. Era janji-janji kosong Anda telah berakhir,” ujar Zolfaghari dalam pernyataan yang disiarkan televisi negara Iran, Rabu.

Pernyataan tersebut muncul setelah pemerintahan Trump menyampaikan proposal gencatan senjata 15 poin kepada Iran melalui perantara Pakistan.

Sebelumnya, Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Namun, ia kemudian menunda rencana serangan selama lima hari dengan alasan adanya “percakapan yang sangat baik dan produktif” dengan Teheran.

Trump juga mengklaim utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah melakukan pembicaraan dengan pihak Iran dan mencapai sekitar 15 poin kesepakatan, termasuk komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai “berita palsu” yang bertujuan memengaruhi pasar keuangan dan minyak.

Kementerian Luar Negeri Iran juga menegaskan tidak ada dialog antara Teheran dan Washington.

Di tengah saling bantah tersebut, sejumlah negara seperti Turki dan Mesir dilaporkan terlibat dalam upaya diplomasi jalur belakang bersama Pakistan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan kesiapan negaranya menjadi tuan rumah perundingan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyerukan penyelesaian damai dan menegaskan bahwa dialog lebih baik dibandingkan konflik berkepanjangan.

Laporan media internasional menyebut proposal Amerika Serikat mencakup penghentian program nuklir Iran, pembatasan pengembangan rudal balistik, serta pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan imbalan pelonggaran sanksi.

Hingga kini, konflik masih berlangsung dengan laporan lebih dari 2.000 korban jiwa, sementara Amerika Serikat terus mengirim tambahan pasukan ke kawasan tersebut. *