LUMAJANG, CS – Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mengalami tujuh kali erupsi, Senin (6/4/2026) pagi, dengan tinggi kolom abu berkisar antara 300 meter hingga 1.100 meter di atas puncak.

Aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Jawa ini terus meningkat sepanjang pekan pertama April 2026, mendorong otoritas memperketat zona aman di sekitar kawasan gunung.

Erupsi pertama tercatat pukul 00.38 WIB dengan kolom abu setinggi sekitar 1.000 meter, berwarna putih hingga kelabu dan mengarah ke barat daya. Letusan tertinggi terjadi pada pukul 06.51 WIB, mencapai 1.100 meter di atas puncak atau sekitar 4.776 meter di atas permukaan laut.

“Erupsi dengan letusan tertinggi terjadi pada pukul 06.51 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.100 meter di atas puncak,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Liswanto dalam laporan tertulis.

Erupsi ketujuh tercatat pukul 09.29 WIB, meski visual letusan tidak terlihat saat laporan dibuat. Sejak awal April, Semeru tercatat sangat aktif, dengan 16 erupsi dalam enam jam pada 1 April 2026, sembilan erupsi pada 4 April, dan erupsi disertai luncuran awan panas sejauh 3,5 kilometer pada 5 April.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menutup total jalur pendakian hingga waktu yang belum ditentukan. Saat ini, Gunung Semeru berada pada status Level III (Siaga).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melarang aktivitas masyarakat di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.

Di luar zona tersebut, warga tetap dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai karena potensi perluasan awan panas dan lahar hingga 17 kilometer dari puncak.

“Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar,” kata Liswanto.

Warga diimbau mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru. *