PALU, CS – Kota Palu masih menjadi daerah dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Sulawesi Tengah (Sulteng).
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian besar penderita berada pada kelompok usia produktif, yakni antara 20 hingga 39 tahun.
Berdasarkan data terakhir Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, jumlah kasus baru HIV/AIDS di Kota Palu sepanjang 2025 tercatat sebanyak 139 kasus. Sementara secara kumulatif, jumlah kasus HIV hingga periode 2025–2026 diperkirakan mencapai sekitar 2.021 hingga 2.250 kasus.
Selain itu, tercatat sekitar 527 kasus AIDS berdasarkan akumulasi data hingga tahun 2025.
Meski pemerintah belum merilis data resmi terbaru untuk triwulan maupun semester awal 2026, Kota Palu tetap dikategorikan sebagai wilayah dengan beban penanganan HIV/AIDS tertinggi di Sulawesi Tengah.
Tingginya angka kasus tersebut menunjukkan penularan HIV masih terus terjadi di tengah masyarakat. Kelompok usia produktif dinilai menjadi kelompok paling rentan karena tingginya aktivitas sosial dan perilaku berisiko.
Sejumlah laporan dan studi terkait HIV/AIDS di Kota Palu menunjukkan mayoritas penderita berasal dari kalangan laki-laki usia produktif. Kasus juga banyak ditemukan pada kelompok berisiko tinggi, seperti laki-laki suka sesama laki-laki (LSL), pelanggan pekerja seks komersial (PSK), serta pekerja seks.
Selain perilaku berisiko, rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara dini juga menjadi tantangan dalam upaya pengendalian penyebaran HIV.
Belum tersedianya pembaruan data resmi tahun 2026 membuat tren peningkatan kasus belum dapat dipetakan secara menyeluruh. Namun, tingginya angka kumulatif mengindikasikan potensi penambahan kasus masih terus terjadi.
Pemerintah daerah bersama instansi kesehatan sejauh ini terus melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari sosialisasi pencegahan, layanan tes HIV, hingga pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Upaya tersebut diharapkan mampu menekan laju penularan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya edukasi kesehatan reproduksi dan pemeriksaan kesehatan berkala. *


