POSO, CS – Upaya memperkuat perdamaian dan ketahanan sosial di Kabupaten Poso terus digencarkan melalui Dialog Nasional bertajuk Poso Harmoni dan Tangguh yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program STRIVE (Strengthening Rehabilitation and Reintegration Program and Improving Social Cohesion Against Violent Extremism) yang didukung Global Community Engagement and Resilience Fund (GCERF) dan dilaksanakan oleh konsorsium Nurani Perdamaian Indonesia bersama SKP-HAM sejak 2025.
Dialog nasional ini difokuskan untuk memperkuat kohesi sosial, mendorong rehabilitasi dan reintegrasi berbasis komunitas, serta membangun ketahanan masyarakat dalam mencegah potensi konflik dan ekstremisme kekerasan.
Program Coordinator Nurani Perdamaian Indonesia, Ardhiana Fitriyanie, menjelaskan program STRIVE dijalankan di Desa Toini, Kelurahan Moengko Lama, dan Kelurahan Kayamanya dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam menjaga perdamaian.
Menurutnya, selain meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan dialog multipihak, program tersebut juga membentuk Forum Warga dan Pandu Warga sebagai wadah memperkuat peran komunitas dalam menciptakan wilayah yang harmonis dan tangguh.
“Terkait bagaimana kita membentuk wilayah yang harmoni dan tangguh, program selama satu setengah tahun ini memang dilaksanakan bersama para pihak dengan harapan dapat memberikan manfaat nyata bagi komunitas,” ujar Ardhiana.
Ia mengatakan, sasaran utama program adalah masyarakat di wilayah yang teridentifikasi memiliki tingkat risiko tertentu. Melalui pendekatan berbasis komunitas dan sistem peringatan dini, warga didorong untuk berperan aktif menjaga stabilitas sosial di lingkungan masing-masing.
“Program ini dimulai Januari 2025 dan akan berakhir pada 2027. Karena itu kami terus berkolaborasi agar meskipun program selesai, warisan baiknya tetap hidup dan dijalankan oleh komunitas di Poso,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Poso, Soeharto Kandar, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut dan menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga perdamaian yang telah dibangun selama ini.
Menurutnya, keberhasilan menjaga harmoni sosial tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, akademisi, media, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Poso memiliki pengalaman panjang dalam membangun perdamaian. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, tokoh agama, pemuda, perempuan, dan seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat agar daerah ini semakin damai, harmonis, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan sosial,” tegas Soeharto.
Keberhasilan pelaksanaan program STRIVE turut didukung sinergi Pemerintah Kabupaten Poso, SKP-HAM, Nurani Perdamaian Indonesia, Densus 88, tokoh agama, organisasi perempuan, komunitas pemuda, akademisi, media, serta berbagai pihak yang selama ini aktif merawat perdamaian di Kabupaten Poso.
Melalui dialog nasional tersebut, para peserta diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama dalam menjaga stabilitas sosial dan memastikan upaya perdamaian yang telah terbangun di Poso terus berkelanjutan.
Reporter: Ishaq


