Dalam memilih maskapai penerbangan, faktor keselamatan kerap menjadi aspek paling mendasar di luar pertimbangan harga tiket maupun ketepatan waktu (on-time performance). Menilai keselamatan udara tidak sekadar melihat ada atau tidaknya riwayat kecelakaan, melainkan juga melibatkan audit internasional, standar operasional, hingga pengawasan regulasi.
Lembaga pemeringkat penerbangan independen, AirlineRatings, kembali merilis daftar maskapai teraman di Indonesia untuk periode 2026 dengan rentang penilaian 1 hingga 7 bintang.
Indikator Penilaian & Peran Penting Sertifikasi IOSA
AirlineRatings mengevaluasi maskapai berdasarkan sejumlah parameter ketat:
- Status kepemilikan sertifikat IATA Operational Safety Audit (IOSA).
- Rekam jejak kecelakaan fatal (fatal accident) dalam 10 tahun terakhir.
- Insiden operasional dan awak penerbangan.
- Status izin terbang di Uni Eropa (bebas dari daftar larangan terbang/ banned list).
Data AirlineRatings menunjukkan bahwa sertifikasi IOSA menjadi pembeda signifikan dalam tingkat keselamatan penerbangan:
- Maskapai terdaftar IOSA (2025): Mencatatkan angka kecelakaan sebesar 0,98 per satu juta penerbangan.
- Maskapai non-IOSA: Angka kecelakaan mencapai 2,55 per satu juta penerbangan.
Daftar 7 Maskapai Teraman di Indonesia (2026)
1. Garuda Indonesia (Skor: 7/7)
Flag carrier Indonesia yang berdiri sejak 1949 ini berhasil mengantongi skor sempurna 7 dari 7 bintang. Hasil ini menjadi pencapaian signifikan mengingat Garuda pernah masuk daftar larangan terbang Uni Eropa pada periode 2007–2018.
Setelah melewati masa kelam—termasuk musibah Penerbangan 152 di Medan (1997) dan Penerbangan 200 di Yogyakarta (2007)—Garuda melakukan transformasi besar-besaran melalui program Quantum Leap pada 2009. Kini, Garuda telah mencatatkan rekor lebih dari satu dekade tanpa kecelakaan serius, terdaftar dalam IOSA, bebas kecelakaan fatal 10 tahun terakhir, serta terbebas dari banned list Uni Eropa.
Armada: Boeing 737-800, Boeing 777-300ER, Airbus A330, dan Airbus A330-900neo.
2. Citilink (Skor: 7/7)
Anak perusahaan berbiaya hemat (low-cost carrier/LCC) milik Garuda Indonesia ini juga meraih skor sempurna 7 dari 7 bintang. Berdiri pada 2001 dan melakukan relaunch LCC pada 2012, Citilink terus berkembang menjadi salah satu maskapai budget terbesar di rute domestik.
Citilink memiliki rekam jejak yang bersih dari kecelakaan fatal, berstatus IOSA registered, dan memenuhi seluruh kriteria keselamatan.
Armada: Airbus A320 (termasuk A320neo) dan ATR 72-600 dengan rata-rata usia 11–12 tahun.
3. Batik Air (Skor: 5/7)
Lini maskapai premium dari Lion Group yang meluncur pada 2013 ini mengantongi nilai 5 dari 7 bintang. Batik Air memiliki rekor bebas kecelakaan fatal, terdaftar di IOSA, serta bebas dari larangan terbang Uni Eropa.
Namun, nilainya berkurang 2 poin pada kategori insiden pilot dan standar operasional. Hal ini dipengaruhi oleh insiden Januari 2024 saat kedua pilot tertidur selama 28 menit dalam penerbangan menuju Jakarta, serta insiden beberapa bulan setelahnya ketika pesawat terbang di bawah batas aman saat pendekatan malam hari. Rating Batik Air dijadwalkan akan dievaluasi ulang pada Januari 2027.
Armada: Sekitar 60 unit gabungan Airbus A320 dan Boeing 737-800 dengan usia rata-rata 11–12 tahun.
4. AirAsia Indonesia (Skor: 5/7)
AirAsia Indonesia mendapatkan skor 5 dari 7 bintang. Tragedi Penerbangan 8501 pada Desember 2014 di Laut Jawa yang menewaskan 162 orang kini telah melewati batas penilaian 10 tahun, sehingga nilai maskapai ini kembali naik.
Saat ini, AirAsia Indonesia kehilangan 2 bintang karena status pendaftaran IOSA yang belum konsisten. Meski demikian, dengan volume penerbangan harian, rute jarak pendek, dan tingkat insiden yang sangat rendah, kinerja maskapai dinilai tetap solid. Jika registrasi IOSA kembali terpulihkan, skornya diproyeksikan dapat kembali ke 7 bintang.
5. TransNusa (Skor: 5/7)
Berdiri pada 2005 di Kupang sebagai operator regional, TransNusa sempat berhenti beroperasi pada 2020 sebelum kembali bangkit pada Oktober 2022 di bawah naungan China Aircraft Leasing Group. Maskapai ini dinilai unik karena menjadi operator pertama di luar Tiongkok yang menggunakan pesawat Comac C909 (sebelumnya ARJ21).
TransNusa mengantongi nilai 5 dari 7 bintang. Rekam jejaknya bersih dari kecelakaan fatal, tetapi kehilangan 2 bintang karena belum memiliki pendaftaran IOSA.
Rute & Armada: Mengoperasikan Comac C909 dan Airbus A320 untuk penerbangan domestik serta internasional (Kuala Lumpur, Singapura, Perth, Guangzhou, dan Bangkok).
6. Wings Air (Skor: 5/7)
Anak perusahaan Lion Air yang berfokus pada penerbangan perintis ini meraih rating 5 dari 7 bintang. Didirikan pada 2003, Wings Air belum pernah mencatatkan kecelakaan fatal, meskipun kondisi medan dan bandara yang berat di wilayah timur Indonesia sempat menyebabkan beberapa insiden runway excursion.
Wings Air sudah terdaftar di IOSA serta bebas dari kecelakaan fatal dan insiden pilot. Maskapai ini kehilangan 2 poin pada kategori standar operasional akibat tantangan geografis serta kualifikasi medan bandara pendek yang dilayaninya.
Armada: Sekitar 50 unit pesawat turboprop ATR 72-500 dan ATR 72-600.
7. Lion Air (Skor: 4/7)
Maskapai swasta terbesar di Indonesia yang berdiri tahun 2000 ini berada di peringkat 4 dari 7 bintang. Lion Air tumbuh pesat, namun memiliki sejarah keselamatan yang mendapat sorotan publik.
Beberapa catatan sejarahnya antara lain insiden Boeing 737 yang mendarat pendek di Bali pada 2013 hingga terbelah di laut (tanpa korban jiwa), serta musibah Penerbangan 610 pada 29 Oktober 2018 ketika Boeing 737 MAX 8 jatuh di Laut Jawa dan menewaskan 189 orang.
Saat ini Lion Air sudah terdaftar di IOSA dan tidak masuk dalam daftar larangan terbang Uni Eropa. Kendati demikian, Lion Air kehilangan 2 poin akibat kecelakaan fatal dalam rentang 10 tahun terakhir dan 1 poin pada faktor insiden pilot. Rating ini akan dievaluasi kembali oleh AirlineRatings pada tahun 2028.
Armada: Boeing 737-800, 737-900ER, 737 MAX 8, Airbus A330-300, dan A330-900neo dengan rata-rata usia 13 tahun.
Catatan untuk Maskapai Lainnya
- Sriwijaya Air: Berada di posisi terbawah dengan rating 2/7. Penilaian ini dipengaruhi oleh rekam jejak kecelakaan penerbangan SJ182 pada tahun 2021 serta rerata usia armada pesawat yang mencapai 25 tahun.
- Pelita Air & Super Air Jet: Sebagai pendatang baru, keduanya masih dalam proses membangun rekam jejak audit dan belum memiliki sertifikasi IOSA. Kendati demikian, Pelita Air diproyeksikan akan meraih pemeringkatan 5/7 seiring melengkapi proses auditnya.*


