PALU, CS – Upaya penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Sulawesi Tengah (Sulteng) memasuki babak baru melalui peluncuran Gerakan Berani Magaya atau Berantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga.

Gerakan yang melibatkan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Sulteng tersebut resmi diluncurkan sebagai gerakan kolaboratif untuk memperluas edukasi, pendampingan pasien, serta deteksi dini dan pemantauan pengobatan TB di masyarakat.

Program tersebut melibatkan 1.073 mahasiswa, 155 dosen, delapan program studi, serta seluruh puskesmas di Kota Palu dan sejumlah puskesmas di Kabupaten Poso, Tolitoli, dan Banggai.

Gubernur Sulteng, Anwar Hafid mengatakan, peningkatan kualitas kesehatan menjadi salah satu program unggulan Pemprov Sulteng melalui Program Berani Sehat.

Program tersebut memberikan jaminan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang memiliki KTP Sulteng di setiap fasilitas kesehatan di daerah tersebut.

“Kesehatan itu menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi melalui Program Berani Sehat. Jadi kesehatan itu masuk dalam 9 program prioritas kami, karena layanan kesehatan ini adalah hak dasar masyarakat,” kata Anwar Hafid.

Ia menegaskan, pemerintah berharap tidak ada lagi masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan ketika sakit, termasuk masyarakat yang terjangkit TB.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Menurutnya, persoalan TB maupun masalah sosial lainnya tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu pihak.

Ia meminta perguruan tinggi tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Sudah bukan waktunya lagi kampus mengidentifikasi kehebatannya sendiri. Tetapi kehebatan kampus harus ditunjukkan seberapa besar manfaat kampus terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Fauzan menilai kampus memiliki sumber daya pengetahuan dan intelektual yang dapat diarahkan menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Karena itu, ia mengapresiasi konsorsium perguruan tinggi di Sulteng yang menjadi landasan Gerakan Berani Magaya.

Menurutnya, model kolaborasi tersebut tidak hanya dapat diterapkan dalam penanggulangan TB, tetapi juga untuk menghadapi persoalan lain seperti stunting, kemiskinan dan pengangguran.

Ia berharap Gerakan Berani Magaya tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perguruan tinggi.

Di sisi lain, Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, fasilitas kesehatan dan masyarakat dalam penanggulangan TB.

Wiyagus menyebut kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari peninjauan pelaksanaan screening TB yang terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis.

Menurutnya, sektor kesehatan merupakan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan langsung dengan pelayanan dasar. Karena itu, pemerintah daerah harus memastikan sektor kesehatan masuk dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah.

“Penemuan kasus tuberkulosis di Provinsi Sulawesi Tengah ini menunjukkan masih terdapat kesenjangan yang cukup besar dalam menemukan kasus tuberkulosis di masyarakat. Tentunya kondisi ini harus menjadi perhatian serius,” jelasnya.

Berdasarkan data yang disampaikan Wamendagri, Kota Palu mencatat temuan kasus TB tertinggi dengan 1.075 kasus.

Kemudian Kabupaten Parigi Moutong sebanyak 546 kasus, Kabupaten Banggai 510 kasus, Morowali 431 kasus, Donggala 366 kasus, Banggai Laut 50 kasus dan Sigi 35 kasus.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus mengapresiasi komitmen Untad dalam mendukung pemberantasan TB, khususnya di Sulteng.

Ia menegaskan bahwa yang harus diberantas adalah infeksi TB, bukan penderitanya.

“Jadi yang kita berantas itu infeksi TB-nya, bukan menjauhi penderitanya. Saya berharap kita semua bisa memberi dukungan buat mereka agar semangat sembuh,” jelasnya.

Menurutnya, pasien TB dapat sembuh apabila menjalani pengobatan secara disiplin dengan dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Untad, Prof. Rosmala Nur, mengatakan Gerakan Berani Magaya lahir dari kegelisahan terhadap masih tingginya penemuan kasus TB di Sulteng, khususnya Kota Palu.

Melalui gerakan tersebut, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dilibatkan secara langsung dalam pendampingan pasien TB dan keluarganya.

Pendampingan meliputi edukasi dan peningkatan literasi TB, pemberian motivasi kepada keluarga, deteksi dini kendala pengobatan, pemantauan kepatuhan minum obat hingga pengumpulan data melalui sistem surveilans digital.

“Melalui Gerakan Berani Magaya, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan akademik, tetapi juga berperan aktif sebagai penggerak edukasi kesehatan di tengah keluarga dan masyarakat,” kata Rosmala.

Program pendampingan berlangsung selama enam bulan dan terintegrasi dengan pembelajaran akademik melalui mata kuliah Surveilans sebanyak 3 SKS serta Teknologi Kesehatan Digital sebanyak 2 SKS.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan memantau kepatuhan pasien menjalani pengobatan, mendampingi keluarga, serta mendukung pemeriksaan pada akhir masa pendampingan.

Seluruh proses didukung melalui aplikasi Berani Magaya, notifikasi SMS dan WhatsApp, pengisian logbook harian, serta supervisi dosen dan tenaga kesehatan secara berkala.

Model tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman pembelajaran langsung kepada mahasiswa, tetapi juga menghasilkan data surveilans yang dapat mendukung upaya penanggulangan TB.

Gerakan ini menargetkan terputusnya rantai penularan TB sekaligus mendukung pencapaian eliminasi TB pada 2030.

Rektor Untad, Prof. Amar, menegaskan komitmen Untad untuk terus mendukung program pemerintah melalui konsep Kampus Berdampak.

“Universitas Tadulako terus menjaga komitmennya dalam mendukung berbagai program pemerintah baik pusat maupun daerah sebagai wujud Kampus Berdampak. Launching Gerakan Berani Magaya merupakan bagian dari komitmen kami mewujudkan Indonesia sehat dan bebas dari penyakit TB,” terang Amar.

Peluncuran Gerakan Berani Magaya ditandai dengan pemukulan gimba oleh sejumlah pejabat dan pimpinan perguruan tinggi.

Prosesi tersebut diikuti Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Wakil Gubernur Suteng, Reny A. Lamadjido dan Rektor Untad Prof. Amar.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemasangan atribut gimba/gendang, pemotongan tumpeng, pemutaran video prestasi serta berbagai kegiatan pendukung.

Gerakan Berani Magaya diharapkan menjadi model kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat dalam memperkuat penanggulangan TB di Sulawesi Tengah, sekaligus mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih sehat.*