Pepatah “tak ada rotan, akar pun jadi” menemukan relevansinya di tengah kepulan asap dan kobaran api yang melanda kawasan hutan dan lahan di SP 2 Transmigrasi Werianggi-Werabur, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.
Ketika api mulai membesar, pilihan yang tersedia sangat terbatas. Tidak ada selang pemadam, tangki air, maupun kendaraan pemadam kebakaran yang dapat segera dikerahkan ke lokasi.
Yang tersedia hanyalah sumber air dari sungai terdekat, ember, tenaga manusia, dan keberanian untuk bekerja di tengah kepungan asap.
Api menjalar dari satu titik ke titik lainnya. Semak-semak kering dan pepohonan yang kehilangan kelembapan menjadi bahan bakar yang mempercepat perambatan kobaran. Tiupan angin turut memperluas jangkauan api.
Dalam hitungan jam, kawasan yang sebelumnya hijau berubah menjadi hamparan bara.
Dalam situasi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot UI (TEP UI) bersama masyarakat bergerak melakukan pemadaman. Peralatan yang tersedia memang terbatas, tetapi kondisi tidak memungkinkan mereka menunggu. Air dari sungai terdekat diangkut secara bergantian menuju titik-titik api.

Ember menjadi peralatan utama.
Satu ember diisi air, dibawa menuju lokasi kebakaran, lalu air disiramkan ke titik api. Setelah kosong, ember kembali dibawa ke sungai untuk diisi ulang dan diangkut kembali menuju kobaran.
Siklus sederhana tersebut berlangsung berulang kali. Di tengah kobaran yang semakin membesar, sebuah ember tentu tampak terlalu kecil untuk menghadapi api yang menjalar dengan cepat.
Namun, bagi mereka yang berada di garis depan, ember bukan sekadar wadah air, tetapi menjadi simbol keterbatasan sekaligus kegigihan.
Anggota TEP UI dan warga berjalan, berlari, serta mengangkut beberapa liter air dalam setiap perjalanan. Tenaga terkuras dan langkah melambat, tetapi mereka tidak berhenti.
Membiarkan api terus menjalar bukanlah pilihan.
Selain memadamkan titik api, mereka juga membasahi area yang telah terbakar. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bara yang tersisa tidak kembali menyala dan api tidak merambat ke kawasan lain.
Secara bertahap, kobaran mulai dapat dikendalikan.
Perjuangan tersebut tidak mudah. Kecepatan perambatan api terkadang lebih tinggi daripada langkah mereka yang membawa air. Namun, kerja sama dan kegigihan memungkinkan titik-titik api dikendalikan satu per satu.
Di balik upaya pemadaman, terdapat persoalan lain yang turut terdampak. Sebagian pipa air bersih yang telah terpasang di jalur pembangunan mengalami kerusakan akibat kebakaran.
Pipa tersebut merupakan bagian dari pembangunan jaringan air bersih yang dikerjakan TEP UI bersama masyarakat dan pemerintah setempat. Jalur pipa dari Tamoge menuju kawasan SP 2 Werianggi dibangun sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terhadap akses air bersih.
Persoalan air bersih menjadi salah satu perhatian utama TEP UI selama menjalankan program pengabdian di kawasan Transmigrasi Werianggi-Werabur.
Sebelumnya, pengerjaan fisik jalur pipa telah menghubungkan sejumlah titik strategis menuju permukiman warga dan memasuki tahap instalasi akhir ke rumah-rumah. Kebakaran kemudian menghadirkan tantangan baru.
Sebagian jalur yang telah dibangun harus diperbaiki. Pekerjaan yang hampir mencapai tahap akhir kembali memerlukan penyesuaian akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh api.
Namun, bagi TEP UI, kerusakan tersebut bukan alasan untuk menghentikan pekerjaan.
Bagian pipa yang terdampak akan diperbaiki, sementara pengerjaan di lapangan tetap dilanjutkan dengan mempertimbangkan kondisi dan risiko yang ada.
Kebakaran di Werianggi-Werabur pada akhirnya bukan hanya tentang api yang membakar hutan dan lahan.
Peristiwa tersebut juga menggambarkan keterbatasan dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi persoalan besar dengan peralatan sederhana. Sebuah ember yang tampak kecil dapat menjadi bagian dari upaya besar ketika digunakan oleh banyak tangan. Lebih dari itu, peristiwa tersebut mencerminkan kepedulian.
Di tengah kepulan asap, TEP UI bersama masyarakat memilih untuk bergerak. Mereka tidak menunggu tersedianya peralatan yang ideal untuk mengambil tindakan. Mereka memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Sungai menjadi sumber air. Ember menjadi alat pemadam. Tenaga manusia menjadi kekuatan utama.
Api mungkin meninggalkan kerusakan, termasuk pada sebagian jaringan air bersih yang sedang dibangun. Namun, peristiwa tersebut juga memberikan pelajaran bahwa pembangunan tidak pernah berlangsung dalam kondisi yang sepenuhnya bebas dari tantangan.
Lingkungan memiliki dinamika tersendiri. Masyarakat memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Setiap langkah pengabdian perlu mempertimbangkan keduanya.
Kepekaan sosial dan ekologis menjadi penting agar solusi yang dihadirkan tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga selaras dengan kondisi lingkungan tempat masyarakat hidup.
Di Werianggi-Werabur, perjuangan tersebut belum selesai.
Api telah dijinakkan. Pipa yang rusak akan diperbaiki. Pekerjaan penyediaan air bersih akan kembali dilanjutkan.
Dari sebuah ember yang diangkat berulang kali menuju kobaran api, tersimpan pesan bahwa keterbatasan peralatan bukan alasan untuk mengabaikan kepedulian.
Ketika masyarakat bergerak bersama, hal sederhana pun dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi persoalan besar. *
Penulis: Yusril


