NTT, CS – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menutup operasi pencarian dan pertolongan (SAR) untuk penanganan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Keputusan tersebut diambil setelah proses pencarian dan pertolongan di sejumlah wilayah terdampak dilakukan secara maksimal. Sebelumnya, operasi SAR difokuskan di sejumlah daerah di Pulau Flores, termasuk Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo.
Gempa M7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Guncangan tersebut menyebabkan korban jiwa serta kerusakan pada sejumlah bangunan dan infrastruktur.
Pada hari ketiga setelah gempa, Basarnas sebelumnya menyatakan tidak lagi menerima laporan warga hilang. Meski demikian, personel tetap dikerahkan untuk melakukan penyisiran di wilayah terdampak guna memastikan tidak ada warga yang membutuhkan pertolongan.
“Pada hari ketiga pascagempa, Basarnas tidak lagi menerima laporan mengenai warga hilang di wilayah terdampak. Meski demikian, personel tetap dikerahkan secara optimal,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.
Operasi SAR melibatkan ribuan personel gabungan. BNPB mencatat kekuatan tersebut terdiri atas 63 personel Basarnas dan 1.799 personel dari potensi SAR lainnya. Pengerahan difokuskan terutama di wilayah yang terdampak paling berat.
Setelah fase pencarian dan pertolongan berakhir, penanganan bencana berlanjut pada tahap pemulihan. Pemerintah mengerahkan berbagai sumber daya untuk memperbaiki fasilitas yang terdampak sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.
Di sektor kesehatan, pemerintah mengirimkan dua rumah sakit lapangan ke Kabupaten Manggarai dan Nagekeo. Fasilitas tersebut disiapkan karena sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan akibat gempa.
Sementara itu, pemulihan infrastruktur juga terus berlangsung. BNPB melaporkan jaringan listrik di Flores Barat dan Flores Timur yang terdampak telah kembali beroperasi. Pemulihan jaringan telekomunikasi di Pulau Flores juga telah mencapai 95,4 persen.
Pemerintah sebelumnya menyebut akses jalan di sejumlah wilayah NTT secara umum sudah dapat dilalui, meski di beberapa titik masih terbatas.
Dengan ditutupnya operasi SAR, perhatian penanganan gempa Flores kini bergeser dari pencarian dan penyelamatan menuju pemulihan masyarakat, infrastruktur, serta layanan publik yang terdampak bencana.*


