YOGYAKARTA, CS – Daun kelor menjadi inspirasi utama logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang akan digelar di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada November 2026.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan pemilihan daun kelor bukan sekadar unsur visual. Tanaman tersebut memiliki filosofi kesederhanaan sekaligus ketangguhan.

“Daun kelor ini ada di mana-mana, tapi tumbuh subur di Palu. Menurut beberapa orang yang mencoba mencari makna simbolik, daun kelor itu termasuk miracle tree atau pohon ajaib. Dia juga sebagai lambang kesederhanaan dan ketangguhan,” kata Haedar saat peluncuran logo di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Haedar, pohon kelor dapat tumbuh di berbagai tempat dan tidak membutuhkan banyak air. Filosofi itu dinilai relevan dengan gerakan Muhammadiyah yang dituntut terus sederhana, tangguh, dan adaptif menghadapi perubahan zaman.

“Daun kelor itu simbol keluasan. Maka ada istilah dunia tidak selebar daun kelor. Artinya daun kelor itu lambang keluasan jelajah pergerakan kita,” ujarnya.

Haedar menilai keluasan tersebut juga mencerminkan semangat inklusivitas dan universalisme dalam gerakan Muhammadiyah.

Selain itu, kelor disebut sebagai miracle tree karena memiliki beragam manfaat. Daunnya dapat diolah menjadi makanan dan dikaitkan dengan simbol kesejahteraan serta kemakmuran.

“Peluncuran logo ini bukan sekadar simbol. Tapi punya makna, termasuk makna estetika. Kita ini pergerakan, dan pergerakan kita pasti punya makna,” kata Haedar.

Tiga Pendekatan Makna

Haedar juga menjelaskan tiga pendekatan filsafat makna yang dapat digunakan untuk memahami simbol dalam logo tersebut.

Pertama, pendekatan filsafat bahasa yang berkaitan dengan makna referensial. Menurut dia, masyarakat tidak cukup hanya melihat bentuk sebuah simbol, tetapi perlu memahami makna yang berada di baliknya.

“Kita jangan hanya melihat sesuatu, tapi lihatlah maknanya. Muhammadiyah juga sesuatu yang punya makna, karena gerakan ini punya rujukan,” tuturnya.

Kedua, pendekatan ideasional yang melihat simbol sebagai hasil dari gagasan. Haedar mengatakan banyaknya gagasan akan melahirkan kemampuan untuk menciptakan sekaligus memahami simbol.

Ketiga, pendekatan eksistensialisme yang menempatkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam atau harakah islamiah yang membawa misi pencerahan.

Sulteng Siap Jadi Tuan Rumah

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah Muh. Amin Parakkasi mengatakan pihaknya siap menjalankan amanah sebagai tuan rumah Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 19-21 November 2026 di Universitas Muhammadiyah Palu.

Amin mengatakan Tanwir dan Milad bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum untuk memperkuat gerakan Islam berkemajuan dalam pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Kami terus melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan seluruh unsur kepanitiaan. Insya Allah kami akan menjadi tuan rumah yang ramah, tertib, dan membahagiakan,” ujarnya.

Ia menambahkan peluncuran logo menjadi penanda dimulainya semangat dan ikhtiar bersama menyambut agenda tersebut.

“Dari Sulteng kami sampaikan seluruh keluarga besar Muhammadiyah. Insya Allah Sulteng dengan dukungan Gubernur dan Ketua DPRD Provinsi siap menyambut seluruh peserta maupun tamu persyarikatan,” kata Amin.