JAKARTA, CS – PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) terus memperkuat angkutan Kereta Api (KA) kontainer sebagai salah satu solusi distribusi barang menghadapi penerapan kebijakan Zero Over Dimension Over Load (ODOL) yang akan diterapkan secara lebih menyeluruh pada 2027.

Penguatan layanan tersebut dinilai semakin relevan untuk mendorong peralihan angkutan barang dari jalan raya ke jalur rel. Dengan kapasitas angkut yang besar, moda kereta api dapat menjadi alternatif distribusi logistik sekaligus mengurangi beban angkutan barang di jalan raya.

Direktur Utama KAI Logistik, Yuskal Setiawan, mengatakan pihaknya terus memperkuat kapasitas dan keandalan layanan agar angkutan KA kontainer semakin kompetitif dan mampu menjawab kebutuhan pelanggan.

“Kereta api memiliki kapasitas angkut besar yang dapat menjadi salah satu solusi dalam mengalihkan angkutan barang dari jalan raya ke rel. Kami terus memperkuat kapasitas dan keandalan layanan agar KA kontainer semakin kompetitif dan mampu menjawab kebutuhan pelanggan,” kata Yuskal, melalui rilisnya, Selasa (22/09/2026).

Kata Yuskal, penguatan tersebut sejalan dengan kinerja angkutan KA kontainer yang menunjukkan pertumbuhan positif. Pada Agustus 2026 volume angkutan KA kontainer KAI Logistik mencapai lebih dari 280 ribu ton, menjadi capaian bulanan tertinggi sepanjang tahun berjalan.

Volume tersebut meningkat sekitar 18 persen dibandingkan rata-rata volume bulanan pada Semester I 2026.

Menurut Yuskal, secara kumulatif hingga Agustus 2026, KAI Logistik telah mengangkut lebih dari 2 juta ton barang menggunakan KA kontainer. Volume tersebut setara dengan pengalihan lebih dari 109 ribu perjalanan truk dari jalan raya ke jalur rel.

Kinerja tersebut melanjutkan pertumbuhan angkutan KA kontainer pada tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, volume angkutan KA kontainer KAI Logistik mencapai sekitar 2,5 juta ton atau tumbuh 8 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Untuk memperkuat layanan, KAI Logistik menjalankan sejumlah inisiatif, di antaranya akuisisi pelanggan baru, pengembangan green freight service, serta penguatan cold chain logistics.

Perusahaan juga menghadirkan sejumlah inovasi dalam ekosistem KA kontainer, seperti pemanfaatan teknologi Radio Frequency Identification (RFID), sertifikasi halal pada sejumlah terminal termasuk fasilitas pencucian kontainer, serta fasilitas plug in untuk menjaga pasokan listrik bagi kontainer berpendingin (reefer container) selama proses penanganan.

Selain aspek kapasitas, KAI Logistik turut mengembangkan transparansi terkait dampak lingkungan melalui pencantuman informasi carbon footprint pada invoice pelanggan.

Fitur tersebut memungkinkan pelanggan mengetahui estimasi emisi karbon dari aktivitas pengiriman menggunakan moda kereta api sekaligus mendukung pengukuran target keberlanjutan dan penerapan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) di sepanjang rantai pasok.

KAI Logistik memproyeksikan segmen KA Multikomoditi tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 8,5 persen hingga 2029, dengan target pendapatan mencapai Rp568 miliar.

Yuskal mengatakan pengembangan angkutan KA kontainer tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan volume bisnis, tetapi juga memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan.

“Pertumbuhan bisnis kami ingin berjalan seiring dengan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan. Karena itu, pengembangan KA kontainer tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume, tetapi juga pada terciptanya sistem logistik yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan,” ujar Yuskal. *