PALU, CS – Menjelang delapan tahun bencana Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 28 September 2018, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tadulako (Untad) menggelar dialog untuk merefleksikan perjalanan riset dan pengamatan kebencanaan di Sulteng.
Dialog bertajuk “Menyikapi Bumi, Membagikan Info: Refleksi Pengamat Kebencanaan Sulawesi Tengah” itu berlangsung, di Aula FMIPA Untad, Jumat (25/9/2026), sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-19 FMIPA Untad.
Forum tersebut menghadirkan Drs. Ir. Abdullah, M.T. sebagai narasumber utama bersama Prof. Dr. Ir. Naharuddin, S.Pd., M.Si., dan Dr. Anwar Dolu, S.T., M.T.
Ketiganya membahas berbagai pengalaman penelitian dan pengamatan terkait kebencanaan, mulai dari karakter kebencanaan Sulawesi Tengah, persoalan lingkungan, mitigasi hingga pentingnya mendokumentasikan hasil riset agar dapat menjadi pengetahuan bagi masyarakat.
Dekan FMIPA Untad Prof. Dr. Lufsyi Mahmudin, S.Si., M.Si., mengatakan refleksi tersebut penting agar pengalaman dan pengetahuan yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak berhenti pada generasi akademisi tertentu.
“Memasuki usia ini, kita harus mengubah inspirasi menjadi aksi, pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi inovasi, inovasi menjadi pengabdian dan pengabdian menjadi karya nyata bagi masyarakat,” ujar Lufsyi.
Dalam forum tersebut, perjalanan Abdullah di bidang geofisika dan kebencanaan turut menjadi sorotan. Abdullah merupakan salah satu tokoh dalam perjalanan awal FMIPA Untad dan pernah dipercaya sebagai Dekan pertama FMIPA.
Ia juga dikenal memiliki perhatian terhadap kajian kebencanaan Sulteng, termasuk fenomena Sesar Palu-Koro dan berbagai jejak kebencanaan di Lembah Palu.
Sejumlah karya Abdullah mengenai kebencanaan, termasuk tulisan mengenai Gempa Bora, Sesar Palu-Koro dan jejak kebencanaan di Lembah Palu, menjadi bagian dari refleksi dalam dialog tersebut.
Momen ini sekaligus menjadi bagian dari penghormatan atas perjalanan pengabdian Abdullah yang dijadwalkan memasuki masa purnatugas pada Maret 2027.
FMIPA Untad mendorong karya-karya Abdullah terkait kebencanaan untuk didokumentasikan dan diterbitkan. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi rekam pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh generasi akademik berikutnya maupun masyarakat.
Forum tersebut juga menegaskan bahwa kebencanaan tidak cukup dipahami hanya ketika bencana terjadi. Penelitian, dokumentasi, mitigasi dan peningkatan kapasitas masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana.
Kehadiran sejumlah akademisi dan pemerhati sejarah, lingkungan serta kebencanaan turut memperkaya diskusi. Di antaranya Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Palu, Ridwan Lapasere, arkeolog Iksam, M.Hum., Koordinator Komunitas Historia Sulteng, Moh. Herianto, Singgih Prasetyo, mantan pejabat Pemerintah Kota Palu yang kini menjadi staf ahli Wali Kota Palu, mantan Kepala Bappeda Kota Palu Rahmad Gunawan, Tasrief Siara serta sejumlah kolega lainnya.
Dekan FMIPA Untad berharap dialog tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan refleksi, tetapi menghasilkan pengetahuan yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami berharap dialog ini menjadi sarana refleksi bagi kita semua untuk lebih menjaga lingkungan serta membentuk masyarakat yang tangguh,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, FMIPA Untad mendorong transfer pengetahuan lintas generasi agar pengalaman akademisi senior dapat terus dikembangkan melalui penelitian, inovasi dan pengabdian, terutama dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana di Sulteng. *


