CEUTA, CS – Persoalan migrasi di Ceuta mulai dipandang sebagian warga bukan lagi sekadar masalah Spanyol.
Dalam aksi menuju perbatasan Tarajal pada 20 September 2026, sejumlah demonstran membawa bendera Uni Eropa (UE) sembari mendesak negara-negara Eropa lainnya ikut menekan pemerintah Spanyol untuk menangani situasi migrasi di wilayah tersebut.
Ceuta bersama Melilla, yang berada lebih ke timur di pesisir Afrika Utara, merupakan dua wilayah Spanyol yang memiliki perbatasan darat dengan Maroko dan menjadi titik perbatasan darat eksternal Uni Eropa di Afrika.
Penggunaan bendera UE dalam aksi tersebut dimaksudkan para demonstran untuk menegaskan bahwa persoalan yang terjadi di Ceuta memiliki dimensi Eropa.
“Ceuta adalah bagian dari Eropa,” ujar sejumlah demonstran kepada The Epoch Times.
Mereka berharap pemerintah negara-negara Eropa lainnya mendorong Madrid mengambil langkah lebih tegas terkait persoalan migrasi.
Ramón, salah seorang peserta aksi, mengatakan bendera UE dibawa karena warga merasa pemerintah Spanyol belum memberikan respons yang mereka harapkan.
“Kami membawa bendera Uni Eropa karena pemerintah Pedro Sánchez tidak melakukan apa-apa. Kami berharap negara-negara Eropa lainnya turun tangan,” katanya.
Namun, seruan agar Eropa terlibat juga disertai rasa kecewa yang mendalam. Ana Belén, warga Ceuta yang ikut dalam aksi, mengatakan dirinya merasa ditinggalkan oleh pemerintah Spanyol maupun institusi Eropa.
“Saya orang Spanyol dan saya orang Eropa, tetapi kami merasa sepenuhnya ditinggalkan oleh pemerintah kami, oleh Eropa, oleh semua orang,” ujarnya.
Ketegangan dalam aksi meningkat ketika sejumlah perwakilan organisasi nonpemerintah (NGO) tiba untuk memantau jalannya demonstrasi. Kehadiran mereka mendapat teriakan dari sebagian peserta aksi.
Sejumlah demonstran menuding organisasi yang memberikan dukungan kepada migran turut berkontribusi terhadap persoalan yang terjadi.
Menurut mereka, kebijakan yang dinilai memudahkan migran untuk tetap tinggal di Spanyol justru dapat menjadi daya tarik bagi kedatangan migran berikutnya.
Alejandro, warga Ceuta berusia 27 tahun, menuding sejumlah NGO berhaluan kiri memperoleh pendanaan besar dan memberikan tekanan kepada pemerintah serta politisi agar melakukan regularisasi terhadap migran.
“Itulah insentif yang membawa mereka ke sini,” katanya kepada The Epoch Times.
Tuduhan tersebut merupakan pandangan yang disampaikan peserta demonstrasi. Perwakilan NGO yang berada di Ceuta tidak memberikan tanggapan ketika dimintai komentar oleh The Epoch Times.
Ketegangan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan migrasi di Ceuta tidak hanya memunculkan perdebatan mengenai pengelolaan perbatasan dan kebijakan pemerintah, tetapi juga memperlebar perbedaan pandangan di tingkat masyarakat mengenai peran pemerintah, Uni Eropa, dan organisasi masyarakat sipil dalam menangani migrasi. *


