WASHINGTON, CS – Peluang meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai terlihat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan nota kesepahaman perdamaian antara kedua negara hampir rampung dinegosiasikan.
Pernyataan itu disampaikan Trump, Sabtu waktu setempat, di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan jalur energi global, khususnya Selat Hormuz yang menjadi lintasan sekitar seperlima distribusi minyak mentah dunia.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengungkapkan dirinya telah melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin negara Timur Tengah dan Asia, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, hingga Bahrain untuk membahas rancangan kesepakatan tersebut.
Ia juga mengaku berbicara secara terpisah dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terkait perkembangan negosiasi.
“Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, tinggal menunggu penyelesaian akhir,” tulis Trump.
Salah satu poin yang paling menjadi sorotan dalam pembicaraan itu adalah rencana pembukaan Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi titik ketegangan akibat konflik berkepanjangan antara Iran dan blok Barat.
Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan bahwa pembahasan mengenai Selat Hormuz tidak bisa diputuskan sepihak oleh Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pengaturan jalur tersebut harus melibatkan Iran, Oman, dan negara-negara pesisir lainnya.
“Pandangan kedua pihak semakin mendekat dalam sepekan terakhir,” ujar Baghaei.
Ia menjelaskan, rancangan memorandum saat ini memuat kerangka negosiasi jangka pendek selama 30 hingga 60 hari, meskipun belum difinalisasi sepenuhnya.
Di balik sinyal positif itu, sejumlah isu utama masih menjadi ganjalan dalam proses negosiasi. Salah satunya terkait program nuklir Iran dan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi.
Laporan media Israel menyebut rancangan kesepakatan sementara yang sedang dibahas belum secara eksplisit memuat tuntutan utama Washington, termasuk pembongkaran program nuklir Iran maupun pengiriman uranium keluar negeri.
Sementara itu, Reuters melaporkan pemimpin tertinggi Iran tetap menginginkan stok uranium dipertahankan di dalam negeri, sikap yang bertolak belakang dengan tuntutan Amerika Serikat.
Proses menuju kesepakatan ini berlangsung setelah berbulan-bulan ketegangan militer dan ancaman serangan terbuka antara kedua negara. Trump sebelumnya sempat membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran pada Mei lalu setelah mendapat tekanan dari negara-negara Teluk.
Negosiasi damai kemudian dimediasi oleh Pakistan dan Qatar sejak gencatan senjata rapuh mulai berlaku pada awal April lalu.
Meski belum mencapai titik final, sejumlah pejabat Iran mengakui peluang tercapainya kesepakatan kini semakin terbuka.
“Tampaknya kita semakin mendekati kesepakatan akhir, namun tantangan masih tetap ada,” ujar seorang anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Iran kepada kantor berita ISNA. *


