PALU, CS – Sulawesi Tengah (Sulteng) memasuki periode rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga pekan ketiga Agustus 2026, sedikitnya 288 hektare hutan dan lahan tercatat terbakar di sejumlah wilayah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulteng mencatat terdapat 33 kejadian karhutla yang telah ditangani sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Karhutla tersebut terjadi di sejumlah daerah, di antaranya Kabupaten Tojo Una-Una, Parigi Moutong, Banggai, Poso, dan Banggai Kepulauan.

Ancaman kebakaran juga masih berpotensi meningkat seiring kondisi cuaca yang semakin kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperingatkan potensi bahaya karhutla di Sulteng berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi pada pertengahan Agustus 2026.

Sejumlah wilayah bahkan tercatat memiliki indeks bahaya cuaca kebakaran atau Fire Weather Index (FWI) yang tinggi. Banggai Laut tercatat mencapai FWI 30, sementara Banggai Kepulauan berada pada angka 29.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena musim kering diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar November 2026. Artinya, potensi kebakaran masih dapat terjadi dalam beberapa bulan ke depan apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Ancaman karhutla di sejumlah wilayah Sulteng dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan pola yang perlu diwaspadai.

Di Pegunungan Batu, Kabupaten Tojo Una-Una, sekitar tiga hektare kawasan hutan terbakar pada 8–9 Agustus 2026.

Kebakaran dilaporkan cepat meluas akibat hembusan angin kencang. Peristiwa tersebut diduga dipicu puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Tidak ada korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi akibat kejadian tersebut.

Sementara di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, kebakaran dilaporkan terus meluas di wilayah Desa Toipan.

Ancaman berbeda muncul di kawasan Pantai Barat Donggala. Api dilaporkan mulai mendekati permukiman warga sehingga meningkatkan potensi dampak terhadap masyarakat.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa karhutla tidak hanya menjadi persoalan kerusakan kawasan hutan dan lahan, tetapi juga dapat berkembang menjadi ancaman langsung terhadap keselamatan warga dan permukiman.

Aktivitas Manusia Jadi Faktor Utama

Karhutla di Sulteng tidak sepenuhnya disebabkan faktor alam. Aktivitas manusia turut menjadi salah satu pemicu utama.

Pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar, aktivitas pertanian dan perkebunan skala kecil, hingga kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan menjadi sejumlah faktor yang dapat memicu kebakaran ketika vegetasi dalam kondisi kering.

Kondisi permukaan vegetasi yang sangat kering turut mempercepat penyebaran api. Pada periode tertentu, nilai Fine Fuel Moisture Code (FFMC) tercatat berada di atas 82 di seluruh kabupaten/kota di Sulteng.

Di sisi lain, tekanan terhadap kawasan hutan juga menjadi persoalan jangka panjang.

Deforestasi yang terjadi akibat pembukaan lahan untuk berbagai aktivitas, termasuk perkebunan sawit, pertambangan nikel, serta pembukaan lahan masyarakat, ikut mengubah kondisi tutupan hutan.

Data yang tersedia menunjukkan deforestasi di Sulteng pada 2025 mencapai 19.086,85 hektare, dengan Kabupaten Morowali dan Morowali Utara menjadi wilayah penyumbang terbesar.

Kondisi tersebut membuat persoalan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dipisahkan dari persoalan tata kelola kawasan hutan dan penggunaan lahan.

Menghadapi ancaman tersebut, BPBD Sulawesi Tengah memperkuat koordinasi lintas sektor, pemantauan wilayah rawan, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya kebakaran.

Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, terutama di tengah kondisi vegetasi yang kering.

Warga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.

Sejumlah wilayah juga telah mendapatkan dukungan sarana dan prasarana melalui program pendanaan iklim, termasuk skema REDD+ Result-Based Payment (RBP) untuk memperkuat penanganan karhutla berbasis masyarakat dan desa.

Dengan musim kering yang diperkirakan masih berlangsung hingga November, kewaspadaan menjadi kunci. Sebab, 288 hektare kawasan yang telah terbakar dan 33 kejadian sepanjang 2026 menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla di Sulawesi Tengah belum berakhir.*