HULU SUNGAI SELATAN, CS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang wilayah Kalimantan Selatan kian meluas hingga mengancam keselamatan satwa liar. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel mengonfirmasi temuan belasan bangkai satwa dilindungi yang hangus terbakar di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Petugas pemadam kebakaran bersama warga sekitar pertama kali menemukan bangkai fauna tersebut pada Minggu (13/9/2026). Selain 12 ekor bekantan, tim evakuasi di lapangan juga mendapati bangkai ular piton serta king kobra yang tewas akibat terkepung kobaran api.
Kepala BKSDA Kalsel, Agus Ngurah Krisna, menegaskan ancaman nyata dari bencana musiman ini terhadap ekosistem setempat. “Kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman serius bagi kehidupan satwa liar,” ungkap Agus pada Selasa (15/9/2026).
Embusan angin kencang serta keterbatasan daya dukung habitat membuat kelompok bekantan tersebut terisolasi dan gagal menyelamatkan diri dari kepungan si jago merah. Saat ini seluruh bangkai satwa telah dievakuasi dan dikuburkan secara layak oleh petugas, sementara tim BKSDA terus menyisir lokasi untuk mencari kemungkinan adanya satwa lain yang selamat.
Berdasarkan pencatatan BKSDA Kalsel tahun 2025, populasi bekantan di daerah tersebut tercatat sebanyak 3.757 ekor yang tersebar pada 11 kabupaten/kota. Sebanyak 1.281 ekor di antaranya hidup aman di dalam 12 kawasan konservasi mangrove dan dataran rendah, sedangkan sisanya berada di luar area lindung yang amat rentan terdampak kebakaran lahan.
Hingga Pertengahan September 2026, krisis karhutla di Kalimantan Selatan masih berlanjut dengan intensitas tinggi. Data mencatat 3.220 titik kejadian kebakaran telah menghanguskan sekitar 21.414,43 hektare lahan, merusak habitat alami, sekaligus memicu paparan kabut asap yang memperburuk kualitas udara kawasan tersebut.*


