JAKARTA, CS – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa sejumlah wilayah Indonesia kian mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga menembus angka 174.694 penderita sejak Agustus hingga pertengahan September 2026.

Kondisi paparan asap pekat ini paling parah dirasakan warga di tiga provinsi Kalimantan, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat, yang kini ditetapkan dalam zona bahaya. Pemantauan indikator kesehatan mencatat ada dua wilayah berstatus sangat tidak sehat dan 20 daerah lainnya masuk kategori tidak sehat akibat polusi asap yang menyelimuti permukiman.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menegaskan bahwa angka penderita ISPA akibat bencana karhutla ini terus menunjukkan peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Dari hasil pemantauan surveilans kesehatan, kasus ISPA pada wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan ini, kita lihat ada 174.694 kasus ISPA dari Agustus sampai 21 September kemarin. Dan untuk hari ini, ada 4.533. Jadi yang sisanya sudah sembuh atau sehat kembali,” ujar Then Suyanti dalam konferensi pers di kantor Polkam, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Ancaman paparan asap karhutla ini berdampak amat rentan bagi kelompok masyarakat berusia lanjut serta anak-anak. Data Kemenkes mengonfirmasi bahwa sebanyak 40.363 pasien di antaranya merupakan balita yang tersebar di 63 kabupaten dan kota dari total tujuh provinsi terdampak.

Masyarakat yang menghirup udara beracun ini berisiko tinggi mengalami batuk, sesak napas, flu, peradangan tenggorokan, hingga memicu kekambuhan asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Selain gangguan pernapasan dan iritasi mata, paparan polutan secara terus-menerus juga memicu risiko penyakit jantung, strok, hingga peningkatan tekanan darah.

Guna meminimalkan dampak buruk kesehatan, Kemenkes mengimbau warga di area terdampak untuk rutin mengecek kualitas udara secara mandiri melalui aplikasi SatuSehat. Warga juga diminta membatasi aktivitas di luar rumah, selalu menggunakan masker perlindungan, menjaga hidrasi tubuh, serta memakai pelindung mata.

“Dan apabila ada gejala seperti gangguan kesehatan seperti sesak napas, batuk yang memburuk, nyeri dada, keluhan kesehatan lain yang meningkat, itu segera ke fasilitas terdekat, fasilitas pelayanan terdekat. Dan untuk asap, kita harap bisa tutup pintu dan ventilasi jaga, bisa menggunakan juga penjernih udara,” kata Then menambahkan.*