PALU, CS – Investasi di Sulawesi Tengah (Sulteng) terus tumbuh pada semester I 2026. Namun, aliran modal tersebut masih sangat terkonsentrasi di Kabupaten Morowali yang menyumbang hampir seluruh nilai investasi provinsi.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulteng, Moh. Rifani, mengatakan realisasi investasi di Morowali mencapai Rp65,87 triliun atau 95,88 persen dari total investasi Sulawesi Tengah pada semester I 2026.
Morowali Utara berada di urutan berikutnya dengan realisasi Rp1,06 triliun, disusul Kabupaten Banggai sebesar Rp786,46 miliar, Kota Palu Rp424,43 miliar, dan Sigi Rp207,02 miliar.
“Morowali masih yang tertinggi, kemudian Morowali Utara,” kata Rifani di Kantor DPMPTSP Sulteng, baru-baru ini.
Menurut Rifani, dominasi Morowali tidak terlepas dari berkembangnya aktivitas industri logam dasar dan pengolahan nikel di wilayah tersebut.
Meski investasi masih terpusat di Morowali, seluruh 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah tercatat tetap memperoleh realisasi investasi sepanjang semester I 2026.
Pertumbuhan investasi tersebut juga diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja. Pada periode Januari-Juni 2026, investasi di Sulawesi Tengah menyerap 19.114 tenaga kerja Indonesia.
Jumlah tersebut meningkat 22,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 15.630 tenaga kerja.
Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja bahkan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nilai investasi yang tercatat sebesar 6,97 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan investasi yang masuk tidak hanya tercermin dari nilai modal yang ditanamkan, tetapi juga berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja di daerah.
Di tengah pertumbuhan investasi tersebut, capaian realisasi antardaerah masih menunjukkan perbedaan.
Kabupaten Tojo Una-Una menjadi daerah dengan persentase capaian tertinggi terhadap target investasi 2026, yakni mencapai 218,97 persen.
Tiga daerah lainnya juga telah melampaui target tahunan meski baru memasuki semester pertama, yakni Buol sebesar 173,65 persen, Parigi Moutong 116,38 persen, dan Poso 110,70 persen.
Sementara itu, Kabupaten Donggala baru merealisasikan 13,75 persen dari target investasi sebesar Rp600 miliar.
Banggai Kepulauan mencapai 16,14 persen, Morowali Utara 35,04 persen, dan Kota Palu 40,42 persen dari target investasi masing-masing.
Rifani menilai Donggala masih memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tujuan investasi. Selain sektor pariwisata, wilayah tersebut memiliki peluang di sektor perkebunan, termasuk komoditas kelapa.
“Donggala sebenarnya luas. Dia bisa perkebunan, termasuk kelapa,” ujarnya.
Selain realisasi investasi, DPMPTSP Sulawesi Tengah mencatat 53.364 permohonan perizinan berusaha melalui sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA) sepanjang Januari-Juni 2026.
Sebanyak 37.891 permohonan atau 71 persen berasal dari pelaku usaha perseorangan.
Dari keseluruhan permohonan tersebut, 72,47 persen izin terbit secara otomatis sesuai standar layanan. Sementara 81,74 persen permohonan berada dalam kategori risiko rendah dan menengah rendah.
Kota Palu menjadi daerah dengan jumlah permohonan perizinan terbanyak, yakni 12.723 permohonan atau 23,84 persen.
Selanjutnya Banggai Laut sebanyak 6.875 permohonan, Parigi Moutong 4.995, Banggai Kepulauan 4.821, dan Morowali sebanyak 4.690 permohonan.
Data tersebut menunjukkan aktivitas investasi dan perizinan usaha di Sulawesi Tengah terus bergerak, meski konsentrasi nilai investasi masih didominasi kawasan industri di Morowali. *


