KALIMANTAN, CS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah masih menjadi fokus penanganan hingga, Sabtu (17/10/2026).
Kabut asap tebal menghambat operasi pemadaman dari udara, sementara petugas terus melakukan pemadaman lanjutan dan pendinginan lahan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Di Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau, titik api baru dilaporkan kembali muncul pada siang hari. Sejumlah lokasi, di antaranya Km 39, Km 21, Km 23, Tanjung Taruna, dan Tumbang Nusa, telah berhasil dikendalikan, tetapi petugas masih melakukan pemadaman sisa api atau mopping up.
Upaya penanganan juga diperkuat dengan pengerahan sekitar 200 personel Brimob untuk membantu pemadaman di Palangka Raya. Angin kencang menjadi salah satu faktor yang diwaspadai karena berpotensi memicu bara api kembali menyala.
Sementara itu, kebakaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, yang berada di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan, menjadi salah satu titik penanganan terbesar di Kalimantan Tengah. Luas lahan terbakar di kawasan tersebut dilaporkan mencapai 513,89 hektare. Pemerintah pusat sebelumnya telah memberikan perhatian khusus terhadap penanganan kebakaran di kawasan konservasi tersebut.
Kabut asap yang membatasi jarak pandang turut menyulitkan operasi pemadaman menggunakan helikopter water bombing. Kondisi tersebut membuat penanganan melalui jalur darat menjadi tumpuan utama petugas di sejumlah lokasi terdampak.
Secara nasional, berdasarkan data penanganan yang dilaporkan pemerintah, luas lahan yang masih dalam proses pemadaman di enam provinsi prioritas mencapai 639,23 hektare. Selain Kalimantan Tengah, provinsi prioritas penanganan karhutla meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau.
Di sisi lain, asap akibat karhutla juga menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 17 Oktober melaporkan bahwa sebaran asap karhutla masih terpantau di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, serta Sulawesi bagian tengah hingga selatan.
BMKG juga menyebutkan bahwa asap yang sempat memasuki wilayah Jabodetabek mulai bergerak menjauh pada Sabtu. Namun, sisa sebaran asap masih terpantau di pesisir barat Banten.
Pemerintah terus mengandalkan operasi darat dan udara untuk mengendalikan kebakaran di wilayah prioritas. Namun, rendahnya jarak pandang akibat asap tebal masih menjadi tantangan, khususnya di Kalimantan Tengah.
Penanganan karhutla juga membutuhkan perhatian terhadap lahan gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan tanah sehingga berisiko memicu kebakaran berulang. Karena itu, pemadaman dan pendinginan lahan menjadi bagian penting untuk mencegah api kembali menyala.
Upaya pengendalian diharapkan dapat menekan luas kebakaran, mengurangi dampak kabut asap, serta melindungi masyarakat dan kawasan hutan yang terdampak. *


