PALANGKA RAYA, CS – Jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia dilaporkan turun 55,7 persen, dari 799 menjadi 354 titik hingga Jumat malam.
Meski demikian, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah masih berlanjut dan menjadi salah satu fokus utama penanganan pemerintah.
Penurunan titik panas tersebut belum sepenuhnya mengakhiri ancaman kebakaran. Di Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau, titik api baru dilaporkan kembali muncul, Sabtu (17/10/2026), sementara petugas masih melakukan pemadaman lanjutan dan pendinginan di sejumlah lokasi bekas terbakar.
Berdasarkan data dalam laporan penanganan karhutla oleh pemerintah melalui website setneg.go, disampaikan bahwa jumlah titik panas di Kalimantan Tengah juga turun tajam, dari 389 menjadi 19 titik. Namun, kondisi di lapangan masih membutuhkan kewaspadaan karena angin kencang berpotensi memicu bara api kembali menyala.
Sejumlah lokasi yang menjadi perhatian petugas meliputi Km 39, Km 21, Km 23, Tanjung Taruna, dan Tumbang Nusa. Meski kepala api di lokasi tersebut telah dikendalikan, petugas masih melakukan mopping up untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Pemerintah juga mengerahkan sekitar 200 personel Brimob untuk mendukung pemadaman di Palangka Raya. Sementara itu, operasi pemadaman melalui udara menghadapi kendala akibat kabut asap tebal yang menyebabkan jarak pandang rendah.
Kebakaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan, menjadi salah satu titik penanganan terbesar di Kalimantan Tengah. Luas lahan terbakar di kawasan tersebut dilaporkan mencapai 513,89 hektare.
Secara keseluruhan, luas lahan yang masih dalam penanganan pemadaman di enam provinsi prioritas mencapai 639,23 hektare, dengan porsi terbesar berada di Kalimantan Tengah.
Untuk mendukung operasi penanganan, pemerintah mengerahkan 61 pesawat, terdiri atas 44 pesawat untuk operasi water bombing dan 17 pesawat untuk patroli udara serta modifikasi cuaca. Operasi darat juga melibatkan lebih dari 60.000 personel.
Pemerintah melaporkan tingkat keberhasilan pemadaman darat rata-rata berada di atas 80 persen terhadap lahan yang baru terbakar setiap hari. Kondisi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan menunjukkan perbaikan, sedangkan Kalimantan Tengah masih menghadapi tantangan penanganan yang lebih berat.
Karakteristik lahan gambut turut mempersulit pemadaman karena api dapat membara di bawah permukaan tanah dan kembali muncul apabila proses pendinginan belum tuntas.
Di sisi lain, kabut asap akibat karhutla masih menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Penanganan difokuskan pada pemadaman lanjutan, pendinginan lahan, serta upaya mencegah munculnya titik api baru.
Penurunan jumlah titik panas menjadi perkembangan positif dalam pemantauan karhutla. Namun, upaya pengendalian tetap perlu dilanjutkan untuk memastikan kebakaran tidak meluas dan dampak kabut asap dapat ditekan. *


