MAKASSAR, CS – PT Vale Indonesia Tbk (anggota MIND ID), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Huayou Indonesia membentuk pusat edukasi transformasi teknologi dan Kelas Pengetahuan Hilirisasi Nikel.

Program ini diluncurkan sebagai respon terhadap tuntutan global dalam transisi energi hijau dan pengolahan mineral strategis, serta sebagai upaya memperkuat peran sumber daya manusia Indonesia dalam industri nikel.

Chief Project Officer PT Vale, Muhammad Asril, menyatakan bahwa hilirisasi industri tidak cukup hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi harus ditopang oleh teknologi dan pengetahuan.
“Kolaborasi ini bentuk strategis untuk mendukung hilirisasi mineral berbasis pengetahuan dan keberlanjutan, yang merupakan investasi jangka panjang untuk manusia, lingkungan, dan masa depan industri kita,” ujar Muhammad Asril melalui rilisnya, Selasa (27/05/2025).

Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, menegaskan kesiapan Unhas menjadi simpul utama dalam transfer ilmu dan teknologi kepada masyarakat dan industri.

“Kolaborasi ini merupakan langkah konkret kami dalam mendukung pertumbuhan industri nasional yang berkelanjutan,” katanya.

General Manager Huayou Indonesia Management Center, David Wei, menyebut integrasi antara industri dan pendidikan penting untuk menghasilkan pionir-pionir lokal yang berpikir global.

Ia juga menegaskan bahwa setiap investasi harus memberikan dampak langsung bagi masyarakat lokal.

Kolaborasi ini meliputi pelatihan vokasi, program anak asuh, beasiswa jenjang S2 dan S3, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, serta kerja praktik bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Hingga akhir 2024, Huayou telah memberikan beasiswa kepada 318 mahasiswa dari berbagai jenjang dan menerima puluhan mahasiswa magang di proyek-proyeknya.

PT Vale juga melanjutkan program pendidikan di komunitas sekitar melalui penyediaan bus sekolah di lima desa, program beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu, dan pelatihan masuk perguruan tinggi.

Saat ini, 99,9 persen tenaga kerja PT Vale berasal dari Indonesia dan lebih dari 80 persen berasal dari Sulawesi.

Pusat edukasi ini dirancang sebagai pusat pengetahuan dan inovasi untuk pengembangan teknologi tepat guna, pelatihan vokasi sesuai kebutuhan industri, dan riset kolaboratif.

Inisiatif ini mendukung target pemerintah dalam menghentikan ekspor bahan mentah dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Editor : Yamin