Dari sebuah desa kecil di pesisir Sulawesi Tengah (Sulteng), angin mimpi berembus jauh membawa Dimas Adi Prasetyo menuju panggung besar sepak bola Indonesia.
Pemuda kelahiran 13 April 2008 itu kini menjadi satu dari 34 pemain yang dipanggil untuk menjalani pemusatan latihan (TC) Timnas U-17 Indonesia di Bali.
Mimpinya sederhana, membela Merah Putih di ajang Piala Dunia U-17 2025 Qatar. Namun perjalanan ke titik ini bukanlah kisah biasa. Ini adalah cerita tentang keberanian melangkah dari keterbatasan, kerja keras tanpa pamrih, dan kepercayaan yang tumbuh dari tanah yang jauh dari gemerlap stadion.
Dimas lahir dan dibesarkan di Desa Nunurantai, Kecamatan Taopa, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulteng. Sebuah daerah yang jauh dari sorotan media, tetapi justru menjadi tempat lahirnya semangat besar.
Tinggi badannya yang kini mencapai 174 cm hanyalah salah satu keunggulan fisiknya. Tapi yang paling mengesankan adalah keberaniannya untuk keluar dari zona nyaman sejak usia 13 tahun.

Tanpa sanak keluarga di Kota Palu, Dimas memberanikan diri bergabung dengan SSB Labuan Beru, Kecamatan Palu Utara.
Ditemani sang ayah yang mengantarkannya langsung, ia kemudian dititipkan kepada pelatih Moh. Arif, sosok yang kelak menjadi bukan hanya pelatih, tapi juga keluarga bagi Dimas.
Coach Arif, pelatih yang dikenal sebagai “pematang bakat” muda di Kota Palu, segera melihat potensi luar biasa dalam diri Dimas.
“Dia pemain serba bisa. Saya lihat dia bisa main di posisi 9 (striker), juga bisa sayap kanan atau kiri (7 dan 11), dan kadang bahkan jadi bek kiri (5),” jelas Arif, di Palu, Minggu (13/07/2025).
Meski begitu, dari banyak turnamen yang mereka ikuti, Dimas lebih sering dipasang sebagai penyerang tengah karena naluri gol dan kecepatannya.
Selama menjalani pembinaan di SSB Labuan Beru, Dimas mengikuti berbagai turnamen bergengsi kelompok umur seperti Liga Top Skor U-15, Piala Soeratin, Hadianto Rasyid Cup, Liga Indonesia Timur Champions 2024, hingga Liga Sentra Indonesia.
Dari kompetisi demi kompetisi, nama Dimas mulai dikenal sebagai penyerang muda yang haus gol dan disiplin tinggi.
Bergabung ke EPA PSM Makassar
Karier Dimas naik satu level saat ia mewakili SSB Labuan Beru mengikuti seleksi Elite Pro Academy (EPA) Liga U-18 musim 2024/2025 bersama PSM Makassar. Tanpa banyak ekspektasi, ia berhasil memikat pelatih dan dinyatakan lolos.
Di PSM, penampilannya yang impresif membuat pelatih Timnas U-17, Nova Arianto, meliriknya dan memanggilnya untuk ikut TC di Bali.
Kini, Dimas berada di antara 34 pemain muda terbaik Indonesia yang tengah mempersiapkan diri untuk ajang paling prestisius di level junior Piala Dunia U-17 2025 di Qatar.
Arif menuturkan, di luar kemampuannya di lapangan, Dimas dikenal sebagai pribadi rendah hati, cepat belajar, dan punya semangat tinggi. Ia anak desa yang tak pernah menyerah pada keterbatasan. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, kerja keras, dan rasa hormat yang ditanamkan sejak di SSB Labuan Beru membentuknya menjadi pemain dengan karakter kuat, dan ditemukan ciri khas pemimpin sejati di lapangan.
Coach Arif berharap, kelolosan Dimas hingga ke TC Timnas bisa menjadi inspirasi bagi para pemain muda lainnya di Sulteng.
“Banyak pemain bagus di daerah, tinggal bagaimana mereka diberi kesempatan dan terus semangat. Dimas bisa jadi contoh, seperti seniornya Witan Sulaeman dari Palu dulu,” tegas pelatih berkepala pelontos itu.
Perjalanan Dimas Adi Prasetyo belum usai. Tapi langkah-langkah yang telah ditempuhnya adalah bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat terpencil.
Ia bukan hanya berlari untuk dirinya sendiri, tapi juga membawa harapan dari Desa Nunurantai dan seluruh anak muda di Indonesia yang ingin percaya, bahwa asal dari desa bukanlah batasan untuk bisa bersinar di panggung dunia.
Penulis: Yamin



