PARIMO, CS – Petani di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) mengkritik keras kebijakan Perum Bulog yang dianggap memberatkan produsen di tingkat bawah, karena hanya menampung beras premium dengan Harga Eceran Tertinggi Rp12.000 per kilogram, dan mewajibkan pengantaran langsung ke kantor Bulog.

Para petani menilai sistem pembelian Bulog tidak adil dan semakin menipiskan margin keuntungan mereka.

Salah satu petani Torue Parimo, Made Agas, mengatakan biaya operasional untuk mengantar beras ke Bulog justru membebani petani, mulai dari pembelian karung, upah tenaga pikul, hingga ongkos transportasi.

“Kalau semua harus diantar ke Bulog, kami keluar biaya lagi, akhirnya harga yang kami terima tidak sepadan,” keluhnya, Kamis (30/10/2025).

Selain itu, Bulog menolak menampung beras jenis medium, meskipun stok di tingkat petani cukup melimpah. Menurut para petani, sikap ini menimbulkan dilema karena beras medium yang mereka hasilkan tidak bisa disalurkan ke pasar resmi.

“Beras medium juga bagus, cuma beda sedikit dari premium. Tapi kalau tidak diterima Bulog, kami bingung mau jual ke mana. Pertemuan dengan Bulog Provinsi kemarin tidak ada kejelasan,” ujar Agas.

Petani lain, Komang Ray, membandingkan sistem Bulog dengan pembeli dari luar daerah yang lebih fleksibel. Pembeli luar bersedia membeli beras premium langsung di gilingan dengan harga Rp11.700 per kilogram dan menampung beras medium hingga 500 ton. Sistem ini membuat petani tidak menanggung biaya tambahan dan tetap mendapatkan keuntungan.

“Kalau pembeli luar, mereka datang sendiri, bayar langsung, dan tidak banyak syarat. Kami tidak perlu keluar ongkos lagi,” tambah seorang pemilik penggilingan di Kecamatan Parigi Tengah.

Situasi ini, menurut para petani, menunjukkan bahwa kebijakan Bulog tidak responsif terhadap kondisi lapangan dan lebih memprioritaskan standar kualitas premium dibanding kebutuhan produsen lokal.

Mereka menuntut pemerintah dan Bulog meninjau ulang sistem penyerapan gabah dan beras agar lebih adil dan sesuai kondisi di lapangan.

“Kami tidak menolak aturan, tapi tolong ada jalan tengah. Jangan sampai kami terus merugi,” tegas para petani.

Reporter: Anum