PALU, CS – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Palu memperketat pengawasan distribusi LPG tabung 3 kilogram menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Melalui Satuan Tugas (Satgas) LPG, inspeksi mendadak (sidak) digencarkan hingga ke tingkat pangkalan dan pasar untuk mencegah kelangkaan serta praktik penjualan di atas harga eceran tertinggi (HET).
Dari hasil sidak di lapangan, petugas menemukan harga LPG 3 kilogram di tingkat pengecer mencapai Rp40.000 hingga Rp45.000 per tabung. Harga tersebut jauh melampaui HET yang telah ditetapkan melalui peraturan gubernur. Selain itu, masih ditemukan pangkalan yang terindikasi memasok LPG ke pengecer dengan harga tinggi.
Kepala Disdag Kota Palu, Zulkifli, mengatakan pihaknya akan menindak tegas pangkalan yang terbukti melanggar ketentuan distribusi dan harga.
“Terhadap pangkalan yang melanggar, kami tidak hanya memberikan teguran, tetapi juga menjatuhkan sanksi berupa pengurangan kuota, pengalihan LPG subsidi ke non-subsidi, hingga penutupan pangkalan jika pelanggaran terus berulang,” kata Zulkifli, Sabtu (20/12/2025).
Selain pelanggaran harga, tim Satgas LPG juga menemukan praktik penjualan LPG dari luar daerah yang dibawa menggunakan kendaraan dan dijual langsung di pasar.
Temuan tersebut langsung ditindak untuk mencegah permainan harga dan potensi kelangkaan di tingkat konsumen.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sebelumnya menetapkan HET baru LPG tabung 3 kilogram melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 500.10.8.3/111/Ro.Ekon-G.ST/2025. Penetapan harga tersebut disesuaikan dengan jarak distribusi, dengan HET untuk wilayah berjarak 0 hingga 60 kilometer ditetapkan sebesar Rp20.000 per tabung.
Tak hanya LPG, Disdag Kota Palu juga melakukan pengawasan terhadap distribusi bahan pokok. Sidak dilakukan di tingkat distributor dan pasar dengan melibatkan Satgas Pangan guna memastikan pasokan berjalan lancar dan harga tetap terkendali menjelang Nataru.
Zulkifli memastikan ketersediaan bahan pokok di Kota Palu dalam kondisi aman dan mencukupi, meski terjadi peningkatan permintaan.
Pendataan stok terus dilakukan hingga tingkat distributor untuk memastikan ketersediaan beras, minyak goreng, gula, dan komoditas kebutuhan pokok lainnya.
Sebagai upaya menekan lonjakan harga dan mengendalikan inflasi, Pemerintah Kota Palu juga menggelar operasi pasar murah melalui dua skema, yakni pasar murah konvensional dan pasar murah mobile atau pasar bergerak yang dikenal dengan nama Gade Nolumako.
Pasar bergerak tersebut menyasar sejumlah gereja di Kota Palu, di antaranya Gereja BK Wilayah Tipo, gereja di Jalan Tangkasi, kawasan Maesa, hingga gereja di Jalan Sisingamangaraja.
Pengawasan juga diperluas ke sektor energi lainnya, termasuk distribusi bahan bakar minyak (BBM). Sidak SPBU difokuskan pada SPBU yang berada di jalur mudik untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi selama libur akhir tahun.
Terkait pasokan komoditas pangan, Kota Palu menerima suplai dari berbagai daerah. Kendala distribusi biasanya dipicu faktor cuaca ekstrem, seperti longsor di wilayah penghasil cabai dan tomat dari Parigi Moutong.
Namun, pasokan dari Kabupaten Sigi terpantau lancar, sementara bawang merah yang didatangkan dari luar Sulawesi Tengah, seperti Enrekang dan Bima, dipastikan aman hingga pergantian tahun.*
Editor: Yamin



