PALU, CS – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menunjukkan sinyal agresif dalam pengembangan tambang emas Poboya, Kota Palu.
Perusahaan mengungkapkan bahwa Blok 1 Poboya menyimpan kadar emas tinggi mencapai 4,9 gram per ton (g/t), seiring rencana pengoperasian tambang bawah tanah (underground) yang ditargetkan mulai berjalan pada semester II 2027.
Di tengah target tersebut, BRMS tetap optimistis menatap tahun 2026 dengan membidik lonjakan produksi emas hingga sekitar 80.000 ons. Target ini meningkat sekitar 15 persen dibandingkan proyeksi produksi tahun 2025 yang berada di kisaran 69.000-71.000 ons.
Untuk mengejar lonjakan produksi tersebut, BRMS menyiapkan tiga proyek utama sepanjang 2026-2027. Fokus utama tertuju pada penyelesaian konstruksi tambang bawah tanah di Blok 1 Poboya yang dinilai memiliki potensi signifikan berkat kadar emasnya yang relatif tinggi.
“Tambang bawah tanah Poboya diharapkan mulai beroperasi pada semester dua 2027 dan akan memberikan kontribusi besar terhadap produksi emas perusahaan,” kata manajemen BRMS sebagaimana dikutip dari Kontan.co.id, Selasa (20/01/2026).
Selain tambang bawah tanah, BRMS juga berencana meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan emas Carbon in Leach (CIL) pertama di Poboya. Kapasitas yang saat ini sebesar 500 ton per hari ditargetkan melonjak menjadi 2.000 ton per hari pada kuartal IV 2026, langkah yang diyakini mampu mendongkrak volume produksi emas secara signifikan sepanjang 2026.
Tak hanya di Poboya, ekspansi BRMS juga merambah Gorontalo. Perusahaan merencanakan pemboran eksplorasi skala besar di tiga lokasi, yakni Cabang Kiri East, Cabang Kiri North, dan Cabang Kiri South.
Dari aktivitas ini, BRMS menargetkan penambahan cadangan dan sumber daya mineral tembaga yang hasilnya akan diumumkan pada semester I 2027.
Rencana ekspansi agresif BRMS tersebut menandai babak baru pengembangan industri pertambangan emas nasional. Namun di sisi lain, langkah ini juga menempatkan sorotan publik pada konsistensi perusahaan dalam memastikan pengelolaan lingkungan, keselamatan kerja, serta dampak sosial di sekitar wilayah tambang berjalan seiring dengan ambisi peningkatan produksi.*
Editor: Yamin


