PARIMO, CS – Pemain sepak bola asal Mali yang dikenal sebagai “Raja Tarkam” Indonesia, Seydou Diakite, dikeroyok oleh manajer dan sejumlah pemain lawan saat memperkuat Sejoli FC dalam pertandingan final Sejoli Cup melawan Persiol FC.
Insiden tersebut terjadi di Lapangan Trio Serumpun, Desa Sejoli, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng), Minggu (1/2/2026) sore.
Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial Facebook dan diunggah akun Agen Wir, peristiwa itu bermula ketika Diakite menerima umpan lambung dan terlibat sedikit kontak fisik dengan penjaga gawang Persiol FC.
Tidak terima dengan benturan tersebut, penjaga gawang Persiol FC menghampiri Diakite dan melakukan pemukulan. Dalam rekaman video, Diakite terlihat tidak melakukan perlawanan.
Situasi kembali memanas beberapa saat kemudian ketika manajer Persiol FC masuk ke lapangan dan melakukan penyerangan terhadap Diakite. Aksi tersebut memicu reaksi dari pemain Persiol FC lainnya yang ikut menyerang, sehingga keributan meluas dan menyebabkan kegaduhan di seluruh area lapangan.
Insiden kekerasan itu menuai kecaman luas dari warganet. Video kejadian tersebut mendapat lebih dari 1.000 tanda suka, 300 lebih komentar, dan dibagikan oleh 331 akun.
Mayoritas komentar mengecam tindakan tim Persiol FC yang dinilai tidak menjunjung sportivitas dan mencederai semangat pertandingan sepak bola antar kampung.
Menanggapi kejadian tersebut, pemain senior dari Sejoli FC, Rivaldi, mengaku sangat menyayangkan insiden yang terjadi pada laga puncak turnamen tersebut.
Mantan pemain Persipal itu mengungkapkan bahwa pertandingan sudah berlangsung keras sejak babak pertama.
Menurut Rivaldi, sekitar 10 menit babak kedua berjalan, terjadi kontak fisik antara Diakite dan penjaga gawang Persiol FC yang akhirnya memicu keributan besar di dalam lapangan.
Ia berharap ke depan tidak ada lagi peristiwa serupa dalam turnamen sepak bola antar kampung.
Rivaldi juga menekankan pentingnya peran panitia dan pengamanan dalam menjaga keselamatan pemain.
“Ke depan panitia harus lebih sigap mengantisipasi potensi keributan, karena pertandingan tarkam rawan konflik. Keamanan pemain harus benar-benar menjadi perhatian utama,” tandas pria yang juga pernah memperkuat Sriwijaya FC di Liga 2 Indonesia itu.
Editor: Yamin

