JAKARTA, CS – Pemerintah memperluas intervensi pasar di berbagai daerah pada pekan pertama Ramadan 1447 Hijriah untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi dan menjaga daya beli masyarakat.
Strategi ini ditempuh melalui operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta penguatan distribusi stok nasional.
Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Jumat (20/2/2026), rata-rata harga sejumlah komoditas utama secara nasional terpantau menurun. Beras premium tercatat melemah 3,55 persen, sementara beberapa jenis cabai turun hingga 21 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga hingga Idul Fitri. Ia menyebut kebijakan yang diambil berorientasi pada kepentingan konsumen.
“Target pemerintah itu adalah konsumen. Masyarakat harus menikmati harga yang baik. Tidak boleh harga naik,” ujarnya.
Di daerah, intervensi dilakukan secara simultan. Di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Dinas Koperasi dan Perdagangan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menggelar operasi pasar murah di Pasar Sidoharjo.
Pemerintah setempat menyediakan 2 ton beras, 60 dus minyak goreng seharga Rp15 ribu per liter, serta paket cabai, telur, dan daging ayam dengan harga terjangkau.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan menggelar pasar murah Ramadan di Jakarta pada 18-20 Februari 2026 dengan melibatkan 75 pelaku UMKM. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menjadwalkan 308 kali GPM hingga Maret 2026 yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.
Di Papua Selatan, Satgas Saber Pelanggaran Harga melaporkan harga dan pasokan pangan pada awal Ramadan masih terkendali.
Dari sisi pasokan, Bapanas memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman. Per 13 Februari 2026, cadangan beras di gudang Perum Bulog mencapai 3,53 juta ton. Potensi produksi pada periode Januari-Maret 2026 diperkirakan sebesar 10,16 juta ton.
Selain intervensi pasar, pemerintah juga menyalurkan bantuan sosial pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat dengan total anggaran Rp11,92 triliun sebagai bagian dari stimulus ekonomi kuartal pertama.
Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian, menilai langkah operasi pasar selama Ramadan cukup efektif menjaga daya beli masyarakat.
Namun, ia mendorong agar titik distribusi diperluas dan pelaksanaannya dilakukan setiap hari untuk meredam potensi lonjakan harga.
Meski tren harga nasional relatif stabil, disparitas harga antarwilayah masih terjadi. Cabai rawit merah, misalnya, sempat menyentuh Rp77.533 per kilogram pada 18 Februari.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, memperkirakan kenaikan harga di awal Ramadan akan mulai melandai memasuki pekan ketiga.
Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan harga dan distribusi pangan secara harian untuk memastikan stabilitas pasokan serta mencegah gejolak selama bulan suci hingga Lebaran. *

