JAKARTA, CS – Nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (21/4/2026) dan menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg Technoz, rupiah dibuka menguat 0,23 persen ke level Rp17.130 per dolar AS, sebelum ditutup pada posisi Rp17.144 per dolar AS atau menguat 0,15 persen.

Penguatan rupiah terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS serta meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Penurunan harga minyak mentah dunia juga turut memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sebelumnya, rupiah sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk penutupan Selat Hormuz dan meningkatnya ketegangan militer yang mendorong kenaikan harga minyak global serta peralihan dana ke aset aman.

Pada perdagangan Senin (20/4/2026), rupiah masih berada di kisaran Rp17.155 hingga Rp17.168 per dolar AS. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mencatat penguatan sebesar 21 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.188.

Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah ke kisaran Rp17.160–Rp17.200. Namun, realisasi pasar justru menunjukkan penguatan yang melampaui ekspektasi.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,46 persen ke level 7.559,38 di tengah keputusan MSCI yang kembali menunda rebalancing saham Indonesia pada Mei 2026.

Total transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp17,36 triliun dengan volume perdagangan 42,62 miliar saham.

Sementara itu, bursa saham utama Asia bergerak menguat, dengan Nikkei 225 naik 0,89 persen, Hang Seng menguat 0,48 persen, dan Shanghai Composite naik tipis 0,072 persen.

Sepanjang April 2026, rupiah tercatat konsisten bergerak di atas level Rp17.000 per dolar AS, mencerminkan dinamika pasar yang masih dipengaruhi ketidakpastian global meski tekanan mulai mereda. *