Delapan perusahaan minyak dan gas (migas) raksasa dunia mencatatkan rekor laba fantastis pada kuartal kedua tahun ini. Di tengah krisis pasokan bahan bakar fosil dan dampak perubahan iklim yang kian parah, kedelapan konglomerasi migas tersebut membukukan total keuntungan bersih hingga US$93 miliar (sekitar Rp1.488 triliun) hanya dalam kurun waktu tiga bulan hingga akhir Juni.

Jika dikalkulasikan, angka tersebut setara dengan keuntungan lebih dari US$700.000 (Rp11,2 miliar) per menit. Capaian ini melipatgandakan laba gabungan mereka dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di bawah US$50 miliar, sekaligus mendongkrak valuasi pasar gabungan mereka melampaui US$3 triliun.

Delapan perusahaan migas tersebut meliputi:

  • Saudi Aramco
  • ExxonMobil
  • Chevron
  • Shell
  • BP
  • TotalEnergies
  • Equinor
  • Eni

Rincian Perolehan Laba Raksasa Migas Dunia

Keuntungan tertinggi diraup oleh perusahaan migas milik pemerintah Arab Saudi, Saudi Aramco, yang mencatatkan lonjakan laba bersih kuartalan sebesar 34% menjadi lebih dari US$33 miliar (Rp528 triliun). Angka ini dicapai meski fasilitas operasional mereka sempat mendapat gangguan akibat serangan pesawat nirawak dan rudal dari militer Iran serta kelompok Houthi.

Di kawasan Amerika Serikat, pertumbuhan laba signifikan dicatat oleh dua raksasa energi:

  • Chevron: Membukukan laba bersih US$12,2 miliar (Rp195,2 triliun), melonjak lebih dari lima kali lipat dibandingkan kuartal kedua tahun sebelumnya.
  • ExxonMobil: Meraup laba US$14,5 miliar (Rp232 triliun), dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu dan menjadi capaian kuartalan tertinggi sejak dimulainya konflik Rusia-Ukraina pada 2022.

Tingginya keuntungan kedua perusahaan tersebut memicu kritikan tajam dari Presiden AS Donald Trump. Trump menuding kedua raksasa energi tersebut mengeruk keuntungan berlebih dari situasi konflik di Iran dan memperingatkan potensi pengembalian dana keuntungan kepada publik jelang pemilu paruh waktu.

Sementara itu di Eropa, hasil kinerja keuangan juga menunjukkan tren serupa:

  • Shell: Mengantongi laba bersih sebesar US$9,84 miliar (Rp157,4 triliun)—rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah perusahaan—meskipun produksi gas mereka di Qatar sempat menurun akibat kerusakan bernilai miliaran dolar dampak perang.
  • BP: Mencetak laba kuartalan sebesar US$5,73 miliar (Rp91,6 triliun), melesat lebih dari dua kali lipat dari angka US$2,5 miliar pada kuartal sebelumnya.
  • Equinor: Mencatat kenaikan laba bersih menjadi US$3,2 miliar (Rp51,2 triliun) dari US$1,8 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu.

Perubahan Strategi Energi dan Kritik Krisis Iklim

Chief Executive BP, Meg O’Neill, menyampaikan bahwa besarnya laba perusahaan merupakan hasil dari fokus operasional dalam menjaga ketersediaan pasokan minyak yang tengah langka di pasar global. Meski demikian, BP memangkas anggaran transisi energi tahunannya dari US$5 miliar menjadi kisaran US$1,5 miliar hingga US$2 miliar.

Langkah pangkas anggaran ini mengikuti penyesuaian strategi awal tahun, di mana BP melakukan divestasi pada sejuta aset energi terbarukan, termasuk penjualan bisnis biogas AS senilai US$4 miliar, pelepasan bisnis ladang angin darat di AS, serta rencana penjualan bisnis tenaga surya (Lightsource) dan ladang migas di Laut Utara.

Lonjakan laba di tengah krisis global ini menuai kecaman dari berbagai aktivis lingkungan. Patrick Galey dari Global Witness menegaskan bahwa keuntungan besar industri fosil bertolak belakang dengan beban yang harus ditanggung masyarakat akibat lonjakan tagihan energi dan dampak krisis iklim.

Data dari Carbon Majors menempatkan Saudi Aramco, Chevron, ExxonMobil, Shell, dan BP sebagai entitas dengan kontribusi emisi karbon historis terbesar di dunia. Laporan ilmiah terbaru turut mengaitkan emisi dari belasan raksasa fosil ini dengan peningkatan intensitas gelombang panas ekstrem di berbagai belahan dunia.

Dampak Suhu Ekstrem Global

Musim panas tahun ini diwarnai oleh serangkaian bencana cuaca ekstrem yang melanda berbagai benua:

  • Eropa: Mengalami gelombang panas terburuk yang merenggut sekitar 20.000 jiwa, mengeringkan lahan pertanian, dan memicu kekeringan yang memperkirakan kehilangan 9 juta ton hasil panen biji-bijian. Kebakaran hutan hebat juga melanda Prancis, Spanyol, Portugal, dan Yunani.
  • Asia Timur: Korea Selatan dan Jepang mencatat rekor suhu tinggi hingga 42,5°C.
  • Asia Selatan: Curah hujan ekstrem memicu banjir bandang dan tanah longsor di Bangladesh, Pakistan, dan India, serta wilayah barat daya China.
  • Amerika Utara: Polusi asap akibat kebakaran hutan di AS dan Kanada pada pertengahan Juli diperkirakan menyebabkan ribuan kematian prematur.

Kepala Iklim PBB, Simon Stiell, mengimbau seluruh pemangku kepentingan global untuk mempercepat transisi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan guna melindungi masyarakat dari dampak krisis iklim yang semakin parah.*