PALU, CS – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terus memacu pengembangan tambang emas bawah tanah atau underground mining di Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Proyek yang digarap melalui anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM), tersebut diproyeksikan menjadi salah satu penopang pertumbuhan produksi emas BRMS mulai 2027.

Untuk mengejar target operasi pada semester II 2027, BRMS menyiapkan skema pendanaan dengan kebutuhan yang disebut berada di kisaran US$200 juta hingga US$300 juta.

Proyek tambang bawah tanah Poboya menjadi perhatian karena memiliki karakteristik bijih dengan kadar emas lebih tinggi dibandingkan tambang terbuka yang selama ini dikembangkan.

BRMS secara resmi telah menunjuk Macmahon sebagai kontraktor jasa penambangan bawah tanah untuk proyek emas Poboya. Penunjukan tersebut dilakukan CPM pada kuartal pertama 2025.

Dalam perkembangan terbarunya, BRMS juga telah mengamankan fasilitas pinjaman sindikasi yang ditujukan untuk mendukung konstruksi tambang emas bawah tanah di Palu, serta kegiatan pengeboran eksplorasi di Gorontalo.

Direktur BRMS, Herwin Wahyu Hidayat, menjadi salah satu jajaran manajemen yang menangani bidang korporasi dan hubungan investor perusahaan.

BRMS mencatat Herwin memiliki pengalaman lebih dari 18 tahun di sektor corporate finance dan investor relations.

Berdasarkan informasi perusahaan, CPM menargetkan tambang emas bawah tanah dengan kadar bijih yang lebih tinggi tersebut mulai beroperasi pada semester II 2027.

Proyek ini sekaligus menjadi bagian penting dari strategi BRMS untuk meningkatkan kapasitas produksi emas dari wilayah Poboya.

Pengembangan tambang bawah tanah dilakukan untuk mengakses sumber daya emas yang berada lebih dalam. Dengan karakteristik bijih berkadar lebih tinggi, proyek tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi sekaligus mendukung efisiensi biaya produksi perusahaan.

BRMS sendiri telah menjalankan kegiatan produksi emas di Poboya sejak 2020 melalui fasilitas pengolahan yang dikelola CPM. Perusahaan juga terus mengembangkan kapasitas pengolahan dan sumber daya mineral di wilayah tersebut.

Kebutuhan pendanaan hingga US$300 juta menjadi bagian penting dalam memastikan pembangunan infrastruktur dan kegiatan operasional tambang bawah tanah dapat berjalan sesuai jadwal.

Di tengah target peningkatan produksi emas, keberhasilan proyek underground Poboya menjadi salah satu faktor yang akan menentukan kinerja BRMS dalam beberapa tahun mendatang.

Jika beroperasi sesuai target pada semester II 2027, tambang bawah tanah tersebut diharapkan menjadi sumber tambahan produksi emas sekaligus memperkuat posisi Poboya sebagai salah satu aset utama BRMS.

BRMS melalui CPM kini masih melanjutkan pembangunan dan persiapan operasional proyek tersebut. Perusahaan juga terus melakukan kegiatan eksplorasi untuk memperkuat basis sumber daya dan cadangan mineral di wilayah operasinya.

Dengan demikian, pendanaan dan penyelesaian konstruksi menjadi dua faktor penting yang akan menentukan seberapa cepat kontribusi tambang bawah tanah Poboya masuk ke dalam produksi BRMS.

Proyek tersebut diharapkan menjadi katalis bagi pertumbuhan produksi emas BRMS pada 2027 dan tahun-tahun berikutnya. *