Ada perpisahan yang terasa seperti akhir sebuah pertandingan. Ada pula yang terasa seperti berakhirnya sebuah zaman. Keputusan Lionel Messi meninggalkan tim nasional Argentina berada di antara keduanya.
Pada 31 Agustus 2026, Messi mengumumkan pensiun dari tim nasional pada usia 39 tahun. Lebih dari dua dekade, ia mengenakan jersey biru-putih, melewati kegagalan, kritik, air mata, hingga akhirnya mengangkat trofi yang paling diinginkannya.
Perpisahan itu bukan sekadar tentang seorang pemain yang berhenti bermain. Ini adalah penutup perjalanan panjang seorang anak yang pernah datang membawa harapan besar, lalu harus belajar berdamai dengan ekspektasi sebuah bangsa.
Dari Bayang-bayang Maradona
Ketika menjalani debut senior pada 2005, Messi sudah membawa label istimewa. Permainannya bersama Barcelona membuat publik Argentina melihatnya sebagai penerus Diego Maradona.
Namun menjadi Messi di Argentina tidak pernah sesederhana menjadi Messi di Barcelona.
Di klub, ia mengoleksi gelar demi gelar. Di tim nasional, ia justru berkali-kali pulang dengan kekecewaan. Argentina kalah dari Jerman pada final Piala Dunia 2014, kemudian gagal di final Copa América 2015 dan 2016.
Kegagalan terakhir membuat Messi sempat meninggalkan tim nasional.
Saat itu, kisahnya bersama Argentina tampak seperti tragedi seorang pemain hebat yang tidak pernah mampu memberikan trofi.
Tetapi Messi kembali.
Bersama Lionel Scaloni, Argentina menemukan keseimbangan baru. Messi tidak lagi harus memikul semuanya sendirian. Pemain-pemain muda tumbuh di sekelilingnya, sementara sang kapten mendapatkan ruang untuk menikmati sepak bola.
Copa América 2021 menjadi titik balik.
Argentina menjadi juara dan Messi akhirnya memenangkan trofi senior pertamanya bersama negaranya. Air mata yang selama bertahun-tahun identik dengan kekalahan berubah menjadi tangis kebahagiaan.
Ketika Penantian Berakhir
Setahun kemudian, Argentina menjuarai Finalissima. Namun masih ada satu tujuan terbesar: Piala Dunia.
Qatar 2022 menjadi panggung yang mengubah seluruh cerita.
Argentina menaklukkan Prancis melalui final dramatis dan Messi akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia. Gelar itu bukan hanya kemenangan Argentina, tetapi juga pembebasan bagi Messi dari perdebatan yang mengikutinya selama bertahun-tahun.
Ia tidak perlu menjadi Maradona.
Ia sudah menjadi Messi.
Argentina kemudian memenangkan Copa América 2024. Messi sebenarnya bisa pergi dengan kepala tegak, tetapi ia memilih bertahan hingga Piala Dunia 2026.
Di usia 39 tahun, ia kembali memimpin Argentina ke final. Namun kali ini, sepak bola tidak memberikan akhir bahagia. Argentina kalah 0-1 dari Spanyol melalui perpanjangan waktu.
Tidak ada trofi terakhir. Tidak ada pesta perpisahan.
Hanya kesadaran bahwa perjalanan itu telah mencapai batasnya.
Yang membuat perpisahan ini semakin emosional adalah kenyataan bahwa Messi tidak pergi ketika dirinya sudah kehilangan arti. Ia pergi setelah membantu Argentina melewati masa paling penting dalam kariernya. Ia merasakan tekanan ketika hasil tidak sesuai harapan, merasakan keraguan publik, kemudian menikmati cinta yang datang setelah kemenangan.
Dalam perjalanan itu, Messi juga berubah. Dari pemain yang seolah harus menyelesaikan setiap persoalan, ia tumbuh menjadi kapten yang lebih tenang dan pemimpin bagi generasi baru. Ia tidak lagi bermain hanya untuk membuktikan bahwa dirinya pantas dibandingkan dengan siapa pun. Ia bermain untuk menikmati sisa waktunya bersama Argentina.
Karena itu, keputusan pensiun bukan hanya tanda berakhirnya karier internasional. Ini juga bentuk penerimaan bahwa sebuah era, sebesar apa pun, pada akhirnya harus memberi ruang kepada masa depan.
Kini masa depan sudah menunggu.
Warisan Sang Nomor 10
Messi disebut telah memikirkan keputusan pensiun sebelum mengumumkannya. Ia meninggalkan Argentina dengan 207 penampilan dan 125 gol, sekaligus memegang rekor penampilan dan gol terbanyak dalam sejarah tim nasional tersebut.
Tetapi warisannya tidak akan dihitung hanya melalui statistik.
Messi pernah gagal. Ia pernah dicemooh. Ia pernah menangis. Ia bahkan pernah pergi.
Lalu ia kembali dan memenangkan semuanya.
Ia datang sebagai anak muda yang dibandingkan dengan Maradona. Ia pergi sebagai juara dunia dan salah satu pemain terbesar dalam sejarah Argentina.
Nomor 10 akan tetap ada. Argentina akan terus bermain. Generasi baru akan datang membawa harapan mereka sendiri.
Namun setiap kali pemain berikutnya mengenakan jersey itu, bayangan Messi akan selalu hadir.
Sebab selama lebih dari dua dekade, ia bukan hanya memakai jersey Argentina.
Ia memberi jersey itu sebuah era.
Kini era tersebut selesai.
Bukan dengan akhir yang sempurna, tetapi dengan kisah yang lengkap.*


