Ada foto yang baru benar-benar bermakna setelah waktu berjalan.

Foto itu diambil pada 2007. Di dalamnya, seorang pemuda berusia 20 tahun bernama Lionel Messi tampak tersenyum sembari memandikan seorang bayi mungil dalam sebuah bak plastik biru. Bayi itu adalah Lamine Yamal, yang saat itu bahkan belum bisa berjalan atau berbicara.

Tak ada yang istimewa dari momen itu kala itu. Itu hanyalah bagian dari sesi pemotretan amal yang digelar UNICEF bersama FC Barcelona Foundation dan harian Diario Sport. Keluarga Yamal terpilih melalui undian untuk mengikuti kegiatan sosial tersebut.

Tak seorang pun menyangka, jepretan kamera yang berlangsung hanya beberapa menit itu akan menjadi salah satu foto paling bersejarah dalam dunia sepak bola.

Delapan belas tahun berlalu.

Lionel Messi tumbuh menjadi legenda hidup sepak bola, peraih berbagai gelar bergengsi dan sosok yang menginspirasi jutaan anak di seluruh dunia. Sementara bayi yang pernah dimandikannya menjelma menjadi keajaiban baru sepak bola Spanyol.

Namanya kini menggema di seluruh dunia: Lamine Yamal.

Kini, menjelang Final Piala Dunia 2026, takdir mempertemukan mereka dalam panggung yang paling megah. Messi memimpin Argentina mengejar mahkota dunia sekali lagi. Di seberang lapangan, Yamal membawa harapan Spanyol untuk merebut gelar juara.

Jarak usia hampir dua dekade tak lagi berarti. Yang satu adalah legenda yang mungkin sedang memainkan bab terakhir kariernya. Yang lain adalah bintang muda yang baru membuka lembaran kisah besarnya.

Foto itu pun kembali viral.

Bukan semata karena memperlihatkan Messi menggendong bayi. Bukan pula karena bayi itu kini menjadi pemain hebat. Tetapi karena foto tersebut seolah menjadi pengingat bahwa waktu memiliki cara yang luar biasa dalam menulis cerita.

Dulu, tangan Messi dengan lembut memandikan Yamal.

Hari ini, kaki Yamal bisa saja menghentikan mimpi terbesar Messi.

Begitulah sepak bola. Kadang bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi tentang bagaimana waktu mengubah peran setiap orang.

Mungkin, ketika peluit akhir final nanti berbunyi, akan ada air mata yang jatuh. Entah air mata kebahagiaan karena menutup karier dengan sempurna, atau air mata haru karena harus menyerahkan panggung kepada generasi berikutnya.

Dan jika itu terjadi, foto sederhana dari tahun 2007 itu akan dikenang bukan lagi sebagai potret seorang legenda memandikan bayi.

Melainkan sebagai awal dari kisah ketika seorang bayi yang pernah dimandikan Lionel Messi, tumbuh besar dan berpeluang membuat mata sang legenda basah di panggung terbesar sepak bola dunia.

Redaksi: channelsulawesi.id