JAKARTA, CS – Langkah strategis diambil pemerintah untuk mengamankan stok dan menjaga stabilitas harga kedelai domestik. Melalui Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), pemerintah resmi memberikan ruang bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk terlibat dalam skema impor kedelai.

Kebijakan ini dirancang guna membentuk cadangan kedelai nasional yang kokoh. Keberadaan pasokan cadangan tersebut dinilai krusial untuk melindungi para pelaku usaha mikro, khususnya produsen tahu dan tempe, dari potensi lonjakan harga maupun kelangkaan bahan baku di pasar.

Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengelolaan cadangan pangan idealnya berada di tangan korporasi negara.

“Harusnya BUMN. Bukan saya, harusnya BUMN,” ujar Amran saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Amran menyatakan kesiapannya untuk memberikan akses penuh kepada BUMN yang siap mengeksekusi langkah tersebut, selama seluruh prosesnya tetap mematuhi regulasi yang berlaku. Bahkan, ia memberi sinyal bahwa pelaksanaan skema ini sudah mulai bergulir.

“Kalau BUMN berminat, saya kasih. Nggak berlampu, sudah jalan. Jalan duluan,” tegasnya.

Meski demikian, pemerintah belum menunjuk entitas BUMN tertentu secara spesifik untuk menjalankan penugasan impor tersebut. Penunjukan lembaga seperti Perum Bulog masih menunggu kepastian payung hukum dan aturan teknisnya.

Langkah penguatan cadangan nasional ini dipandang makin mendesak mengingat dinamika harga serta pasokan kedelai di dalam negeri masih sangat bergantung pada aktivitas importir pasar.

“Iya, harus dong. Supaya bisa membantu peternak kecil,” tambah Amran.

Kondisi pasokan kedelai impor nasional per September 2026 sendiri berada di kisaran 475.000 ton dan tergolong aman. Sementara itu, tingkat harga yang diterima para perajin di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi saat ini bertahan pada rentang Rp11.100 hingga Rp11.600 per kilogram.

Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga mengungkapkan bahwa pergerakan harga komoditas ini dipengaruhi oleh kombinasi harga global, nilai tukar mata uang, biaya logistik, hingga situasi geopolitik dunia. Namun, ia menekankan bahwa keberlangsungan produksi para perajin tahu dan tempe tidak hanya bergantung pada harga, melainkan juga kepastian ketersediaan pasokan.

“Perajin membutuhkan kepastian bahwa kedelai tersedia ketika dibutuhkan, sehingga mereka dapat merencanakan produksi dengan lebih baik,” tutur Hidayatullah.

Selain ketersediaan, kelancaran rantai distribusi antarwilayah menjadi kunci penting agar tidak terjadi ketimpangan harga akibat kendala akses atau biaya transportasi. Sinergi antara ketersediaan barang dan distribusi yang efisien diharapkan mampu menjaga roda produksi perajin lokal tetap berputar serta memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat secara berkelanjutan.*