YOGYAKARTA, CS – FisTx Indonesia merilis Ensiklopedia Budidaya Udang, sebuah ebook berisi 12 bab yang disusun CEO sekaligus praktisi budidaya udang, Rico Wisnu Wibisono untuk membantu petambak meningkatkan produktivitas melalui pengambilan keputusan berbasis data.

Seluruh seri ebook tersebut dapat diunduh secara gratis oleh petambak, teknisi, dan pelaku usaha udang sebagai bekal mempersiapkan siklus budidaya 2027 dengan perhitungan yang lebih terukur.

Peluncuran ensiklopedia ini hadir di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi udang nasional menjadi 1,69 juta ton pada 2029, sebagaimana tercantum dalam arah perencanaan pembangunan nasional.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang disampaikan dalam bahan rilis, produksi udang nasional pada 2024 tercatat sebanyak 844.140 ton.

Untuk mencapai target tersebut, produksi nasional perlu meningkat hampir dua kali lipat dalam lima tahun. Kondisi ini menuntut peningkatan produktivitas tambak, perbaikan tata kelola budidaya, serta penguatan kemampuan petambak dalam mengelola risiko produksi.

CEO FisTx Indonesia, Rico Wisnu Wibisono, mengatakan keputusan di tingkat tambak menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong peningkatan produksi. Karena itu, pihaknya membuka akses terhadap pengetahuan budidaya yang selama ini digunakan dalam praktik lapangan.

“Angka target itu hanya akan tercapai kalau keputusan di tingkat kolam ikut berubah. Karena itu kami membuka ilmu yang selama ini kami pakai di lapangan, secara gratis, supaya petambak bisa menghitung sebelum menebar,” ujar Rico, melalui rilisnya, Jumat (16/10/2026).

Ia menjelaskan, setiap bab dalam ensiklopedia tersebut memuat kasus, angka, dan prinsip budidaya yang dapat diterapkan langsung oleh tim tambak. Materinya mencakup berbagai aspek operasional, mulai dari menentukan kepadatan tebar hingga menghitung harga pokok produksi (HPP) per kilogram udang.

Menurut Rico, pengambilan keputusan berdasarkan perkiraan tanpa perhitungan yang memadai dapat meningkatkan risiko kegagalan budidaya. Melalui ensiklopedia tersebut, FisTx ingin membantu petambak menggunakan pendekatan yang lebih terukur dalam menjalankan usaha.

“Banyak kolam gagal bukan karena kurang niat, tapi karena keputusan diambil dengan perkiraan. Ensiklopedia ini kami susun supaya perkiraan itu diganti dengan hitungan,” katanya.

Tantangan peningkatan produksi juga terlihat dari struktur usaha tambak nasional. Berdasarkan data yang tercantum dalam bahan rilis, sekitar 82 persen luas tambak udang Indonesia masih berupa tambak tradisional, sehingga peningkatan produktivitas dan perbaikan tata kelola kawasan menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor tersebut.

Di pasar internasional, Indonesia tercatat mengekspor 218,87 ribu ton udang senilai 1,87 miliar dolar AS pada 2025, dengan pangsa sekitar 6 persen dari pasar global. Sementara itu, Ekuador disebut memimpin produksi udang dengan volume mencapai 1,41 juta ton.

Selain meningkatkan produksi dan daya saing ekspor, perlindungan pasar domestik juga menjadi perhatian pemerintah. Pada September 2026, KKP dilaporkan mengamankan 1.048 ton udang impor di Jawa Timur yang diduga akan dipasarkan di dalam negeri, meskipun peruntukannya untuk diolah dan diekspor kembali.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan udang impor yang seharusnya diperuntukkan bagi kegiatan ekspor kembali masuk ke pasar domestik.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, akses terhadap pengetahuan budidaya menjadi salah satu upaya yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas tambak.

FisTx berharap ensiklopedia yang disediakan secara gratis itu dapat membantu petambak menyusun strategi budidaya berdasarkan data dan perhitungan yang lebih baik menjelang siklus produksi 2027. **