Di ponsel banyak orang, pertanyaan itu masih tersimpan sebagai kebiasaan kecil.
Kalimat sederhana yang biasanya dikirim tanpa berpikir panjang.
Apa kabar?
Bagi keluarga Florencia Lolita Wibisono, pertanyaan itu kini berubah menjadi ruang hening yang panjang. Tak ada notifikasi masuk. Tak ada tanda “sedang mengetik”. Tak ada balasan yang datang terlambat.
Florencia atau Olen, seperti ia akrab dipanggil selama ini selalu menjawab. Kadang singkat. Kadang diselipi emotikon. Kadang hanya, “Baik, habis landing.”
Jawaban-jawaban kecil itu menjadi penanda bahwa hidup terus berjalan, bahwa ia masih di sana, di antara jadwal terbang dan tanggung jawab yang tak pernah ringan.
Olen adalah pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport. Profesi yang di mata banyak orang tampak rapi, penuh senyum, dan seragam yang selalu disetrika dengan baik. Namun di balik itu, ia menjalani peran yang jauh lebih berat.
Ia membawa darah Sulawesi Utara, dari seorang ibu asal Tondano. Dari sanalah ia mewarisi keteguhan yang tak banyak bicara. Ia tak pernah menjelaskan panjang lebar mengapa ia harus terus terbang, mengapa ia jarang libur, mengapa lelah sering ia simpan sendiri. Ia hanya bekerja dan memastikan rumah tetap berdiri.
Rute Yogyakarta–Makassar adalah salah satu rutinitasnya. Bagi Olen, itu bukan sekadar jalur di peta, melainkan rangkaian kebiasaan yang ia kenal baik. Suara mesin, kabin sempit, penumpang dengan cerita masing-masing. Ia tahu kapan harus tersenyum, kapan harus bicara pelan, kapan cukup hadir tanpa kata.
Di mata penumpang, Olen adalah bagian dari perjalanan singkat.
Di rumah, ia adalah jawaban dari banyak kebutuhan.
Sabtu 17 Januari 2026 sore, pesawat ATR 42-500 yang ia layani kembali mengudara menuju Makassar. Tak ada yang istimewa dari hari itu. Tidak ada firasat yang diumumkan. Tidak ada perpisahan yang dipanjangkan.
Seperti biasa, Olen pergi bekerja.
Beberapa jam kemudian, kabar itu datang. Pesawat jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Maros. Nama Florencia Lolita Wibisono masuk dalam daftar korban. Informasi disampaikan dalam kalimat-kalimat formal, tanpa ruang untuk emosi.
Namun bagi mereka yang mengenalnya, dunia berhenti di satu titik, di pertanyaan yang tak lagi bisa dikirim.
Apa kabar, Len?
Tak ada lagi jawaban singkat dari bandara. Tak ada pesan bahwa ia sudah tiba. Tak ada cerita kecil tentang penumpang atau cuaca. Yang tersisa hanyalah percakapan lama yang kini dibaca ulang, seolah setiap kata menyimpan jejak napas terakhir.
Olen bukan tokoh publik. Ia tak meninggalkan pernyataan besar. Ia hanya menjalani hidupnya dengan disiplin dan tanggung jawab. Tetapi justru dari situlah kehilangan terasa paling nyata, karena ia adalah orang biasa yang kehadirannya sangat berarti.
Ia menjaga keselamatan orang lain sebagai pekerjaannya.
Ia menjaga kehidupan keluarganya sebagai panggilannya.
Kini, pertanyaan “Apa kabar?” tak lagi menunggu jawaban. Ia berubah menjadi doa yang diucapkan pelan, menjadi sapaan yang dikirim ke langit, berharap entah siapa yang mendengarnya.
Apa kabar Florencia Lolita Wibisono?
Ia mungkin tak lagi menjawab dengan ponsel di tangannya.
Namun kabarnya belum satupun mengetahuinya, di ingatan tentang kerja yang tak pernah setengah, di cerita tentang anak Tondano yang memilih langit demi keluarga,
dan di setiap penerbangan yang mendarat dengan selamat tanpa pernah tahu siapa saja yang telah menjaga perjalanan itu dengan seluruh hidupnya.
Pertanyaan itu kini tak lagi mencari jawaban.
Ia menjadi cara untuk mengingat.
Dan mungkin, selama pertanyaan itu masih diucapkan,
Florencia Lolita Wibisono tak benar-benar pergi.*
Penulis: Yamin


