JAKARTA, CS – Menjelang bulan Ramadan, harga cabai rawit merah di tingkat konsumen nasional tercatat melonjak hingga Rp73.339 per kilogram.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) secara daring, Minggu (15/2/2026) untuk menanggapi lonjakan harga ini.

Rakor melibatkan petani cabai dari Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan, pedagang di DKI Jakarta, Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta, serta Satgas Pangan Polri.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa stabilisasi cabai memerlukan koordinasi dari hulu hingga hilir.

Berdasarkan data Panel Harga Pangan per 14 Februari 2026, harga cabai rawit merah di tingkat produsen mencapai Rp56.383 per kilogram, sementara harga rata-rata nasional di tingkat konsumen sebesar Rp73.339 per kilogram.

“Cabai adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap pasokan harian. Karena itu, penguatan distribusi dari sentra panen ke pasar utama harus kita percepat melalui koordinasi lintas daerah dan lintas kementerian,” ujar Ketut.

Lonjakan harga juga dipengaruhi cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi di sentra produksi, terutama di Jawa Timur, menghambat proses panen di lapangan. Di beberapa wilayah, harga bahkan menyentuh Rp80.000 per kilogram.

Untuk menekan biaya logistik dan menjaga ketersediaan, pemerintah menyiapkan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Barat menuju Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.

Sentra produksi di Jawa Timur seperti Kediri, Blitar, Mojokerto, dan Banyuwangi diperkirakan memasuki masa panen dalam waktu dekat.

Suyono dari Asosiasi Petani Cabai Indonesia memprediksi harga cabai rawit merah akan turun secara bertahap setelah periode Imlek.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa stok pangan nasional dalam posisi surplus menjelang Ramadan.

Berdasarkan neraca cabai di Jawa Barat, produksi cabai rawit Februari 2026 mencapai 34.463 ton dengan kebutuhan 16.578 ton, menghasilkan surplus 17.885 ton. Surplus diperkirakan meningkat pada Maret dengan produksi 78.963 ton dan kebutuhan 23.946 ton.

“Stok kita kuat dan dalam kondisi surplus menghadapi Ramadhan. Kondisi ini harus tercermin pada harga yang baik dan wajar di masyarakat,” tegas Amran. *